Home » Hubungan Internasional » Konflik Kepulauan Senkaku Antara Cina-Jepang
Kepulauan Shenkaku (Google.com)
Kepulauan Shenkaku (Google.com)

Konflik Kepulauan Senkaku Antara Cina-Jepang

Kepulauan Shenkaku (Google.com)

Kepulauan Senkaku (Google.com)

Konflik Kepulauan Senkaku Antara Cina-Jepang – Dalam hubungan internasional antara Cina-Jepang, konflik menjadi salah satu hal yang mengisi perjalanan panjang hubungan kedua negara. Di dalam artikel ini, konflik Cina-Jepang difokuskan pada hubungan internasional kedua negara atas Kepulauan Senkaku, pulau yang diperebutkan kedua negara.

Latar Belakang
Hubungan Cina dengan Jepang semakin hari semakin memanas. Disamping faktor historikal yang menjadi latar belakang rusaknya hubungan Cina dengan Jepang, masalah perebutan Kepulauan Senkaku menjadi masalah yang masih berlangsung sampai dengan saat ini. Cina dan Jepang saling mengklaim bahwa Kepulauan Senkaku ialah milik mereka.

Kepulauan Senkaku yang menjadi objek perebutan antara Cina dan Jepang (juga Taiwan) merupakan kepulauan seluas 7 km2 yang terletak pada pada 175km dari utara Pulau Ishigaki (Perfektur Okinawa), 190 km timur laut Taiwan dan 420 km dari timur daratan Cina.[1] Perebutan pulau ini terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga sekarang. Baik Cina maupun Jepang sampai saat ini belum menemukan titik terang dalam menyelesaikan masalah Kepulauan Senkaku.

Yang menjadi pertanyaan yang akan dijawab dalam paper ini ialah, faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab bagi Jepang dan Cina memperebutkan Kepulauan Senkaku?

Hingga sekarang sudah banyak peristiwa yang menggambarkan ketegangan antara Cina dengan Jepang akibat Kepulauan Senkaku ini, seperti halnya pada tahun 1996 ketika Jepang membangun mercusuar pengganti di salah satu pulau dari Kepulauan Senkaku.[2] Hal ini jelas membuat geram Cina. Pada 1997, di Laut Cina Timur terjadi baku hantam antara penjaga pantai Jepang dengan para demonstran dari Hongkong yang membawa dua puluh kapal berupaya untuk mencapai kepulauan Senkaku. Demonstrasi yang dilakukan terhadap pengklaiman Kepulauan Senkaku tidak hanya terjadi pada tahun 1997an tetapi terjadi juga pada awal 2000 sampai dengan sekarang. Koreshige Anami, Duta Besar Jepang, pada 5 Januari 2004, menyatakan bahwa Pemerintah Jepang telah menegaskan akan kepemilikan kepulauan Senkaku. Kepulauan Senkaku adalah bagian dari wilayah teritorial Jepang dan klaim Cina atas wilayah tersebut dianggap tidak berdasar. Pada Maret 2004 beberapa aktivis Cina menancapkan bendera Cina di Kepulauan Senkaku, atas perbuatannya, beberapa aktivis ini ditangkap dan ditahan oleh tentara Jepang.

Demi menjaga hubungan bilateral diantara kedua negara tersebut, pada akhirnya Jepang membebaskan dan memulangkan aktivis-aktivis tersebut ke negara asalnya.[3] Tindakan –tindakan provokasi ini berlangsung sampai dengan tahun 2006. Puncak ketegangan antara Jepang dan Cina ialah saat Jepang pada Agustus 2012 lalu menasionalisasi kepulauan tersebut dengan cara membeli Kepulauan Senkaku dari pemilik swasta Jepang, tindakan ini dianggap sebagai tindakan provokasi bagi Cina. Akibat hal tersebut kapal Cina dengan Jepang saling baku tembak meriam air di wilayah tersebut.[4] Tak jarang pula baik Jepang maupun Cina saling menangkap nelayan dari kedua negara tersebut yang sedang berlayar di perairan wilayah senkaku. Dalam forum sidang PBB di New York tahun ini, kedua menteri luar negeri negara tersebut sempat mengadakan dialog mengenai konflik Kepulauan Senkaku, tetapi pada akhirnya tidak menemukan hasil.

Paper ini mencoba untuk menganalisa faktor-faktor apa saja yang menjadi alasan diperebutkannya Kepulauan Senkaku oleh Jepang dan Cina. masalah ini menarik karena perilaku dari antara kedua negara tersebut semakin hari semakin agresif. Dan pula konflik antara Cina dan Jepang ini mengundang perhatian dunia, terutama Amerika dan negara-negara di Asia.

Kerangka Teori dalam Analisa

Dalam Realisme, kita dapat menemukan konsep national interest yang sebenarnya termasuk dalam golongan national sovereignty. Menurut H. J. Morgenthau bahwa kepentingan setiap negara adalah mengejar kekuasaan, yaitu apa saja yang bisa membentuk dan mempertahankan pengendalian negara lain. Hubungan kekuasaan ini bisa diciptakan melalaui teknik-teknik paksaaan kerjasama.[1] Menurut Morgenthau, dari tujuan-tujuan umum ini negara dapat menurunkan kebijaksanaan-kebijaksanaan spesifik terhadap negara lain, baik bersifat kerjasama maupun konflik.[2] Dengan kata lain, untuk mencapai apa yang dinginkan negara akan struggling dengan power.Sedangkan menurut Roy Olton dan Jack C. Plano, untuk mencapai national interest perlu dipertimbangkan juga national power. Hal-hal yang menjadi national interest disini mencakup pertahanan diri (self preservation), kemandirian (independence), integritas teritorial (territorial integrity), keamanan militer (military security), dan kemakmuran ekonomi (economy wellbeing).[3]

National interest merupakan faktor yang penting bagi setiap negara dalam menjalankan politik luar negerinya, dimana negara tidak hanya menentukan pilihan dalam pengambilan keputusan untuk menghadapi adanya ancaman tetapi juga menentukan pilihan skala prioritas politik luar negeri. Setiap kepemerintahan suatu negara di dunia umumnya bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan kepentingan ekonomi negaranya. Tujuan tersebut meliputi upaya peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dan memastikan bahwa keamanan negara tetap terpelihara. National interest inilah yang merupakan cakupan dari tujuan-tujuan negara yang sudah disebutkan.

Analisa Konflik Kepulauan Senkaku

Sengketa kepulauan Senkaku awalnya dipicu oleh sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh UNCAFE yang menyatakan bahwa terdapat potensi kandungan sumber daya alam yang sangat melimpah berupa minyak dan gas alam di Pulau Senkaku. Tidak hanya SDA migas saja yang tersimpan di Kepulauan Senkaku, di perairan Kepulauan Senkaku pun kaya akan ikan. Bagi Cina dan Jepang, kepulauan Senkaku memiliki arti yang sangat penting baik wilayahnya maupun SDA yang terkandung di dalamnya.

Kepulauan Senkaku yang diperebutkan oleh Cina dan Jepang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan dianggap memiliki potensi-potensi lebih. Hal inilah yang menyebabkan sebegitu kerasnya kedua negara tersebut memperebutkan dan mempertahankan Kepulauan Senkaku. Hal ini dapat dilihat ketika belum dipublikasikannya mengenai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kepulauan Senkaku oleh UNCAFE, kepulauan tersebut tidak menjadi sorotan di negara-negara sekitarnya maupun AS. Kepulauan Senkaku hanyalah seperti pulau yang tak berpenghuni dan tidak memberikan keuntungan apapun.

Akan tetapi ketika dipublikasikannya mengenai sumber daya alam yang dimiliki oleh Kepulauan Senkaku barulah Cina dan Jepang dan pula Taiwan berlomba-lomba untuk mengklaim Kepulauan Senkaku sebagai milik masing-masing negara.Selain SDA yang melimpah di Kepulauan Senkaku, nilai strategis Kepulauan Senkaku pun perlu dipertimbangkan. Letak geografis Kepulauan Senkaku diprediksikan dapat memberikan keuntungan bagi Cina dan Jepang baik di bidang ekonomi maupun pertahanan.

Seperti yang sudah dijelaskan di kerangka teori bahwa national interest bukan hanya pada kesejahteraan ekonomi melainkan self preservation, independence, territorial integrity, military security. Kepulauan Senkaku memiliki kesemuanya. Bagi Cina, Kepulauan Senkaku yang lokasinya dekat dengan Cina dan juga Jepang, wilayah ini dapat dijadikan sebagai basis pertahanan militer cina terhadap Jepang mengingat di luar masalah

Kepulauan Senkaku, hubungan Cina dengan jepang memang sudah konfliktual. Hal inilah yang membuat Jepang tidak ingin Kepulauan Senkaku jatuh ke dalam kedaulatan Cina. Cina juga berupaya keras agar Kepulauan Senkaku menjadi wilayah daulatnya karena dengan ini Cina dapat memperkuat legitimasinya akan Taiwan dan dapat mengeluarkan kebijakan One China Principle, yang berarti bahwa hanya ada satu Cina di dunia ini. Perlu diketahui bahwa Taiwan juga ikut memperebutkan wilayah ini.

Sama halnya dengan Cina, Jepang menganggap bahwa Kepulauan Senkaku dapat dijadikan basis militernya yang melindungi Cina dari segala macam bahaya terutama Cina. Baik Cina maupun Jepang sadar betul bahwa Kepulauan Senkaku dapat membawa dampak yang besar bagi keduanya. Keduanya dapat memperbesar dan memperkuat masing-masing negaranya. Yang menjadi menarik disini ialah bahwa kedua negara tersebut sama-sama ingin menjadikan Senkaku sebagai basis militer demi membangun pertahanan akan ancaman yang datang juga dari kedua negara tersebut. Hal ini jelas membuktikan bahwa setiap negara berkepentingan untuk melindungi kedaulatan negaranya dan menjaga keamanan negaranya (self preservation dan territorial integrity).

Kesimpulan
Perebutan Kepulauan Senkaku oleh Cina dan Jepang sudah jelas dikarenakan national interest diantara kedua negara tersebut. National interest baik dari segi ekonomi maupun pertahanan. Dimana lokasi Kepulauan Senkaku yang strategis dan sumber daya alam yang terkandung di Kepulauan Senkaku yang sangat menguntungkan baik bagi Jepang maupun Cina. Sejauh konsep kepentingan nasional dalam teori realism yang dipakai dalam paper ini cukup dapat menjelaskan mengapa sampai terjadi konflik perebutan Pulau Senkaku antara Jepang dengan Cina.

Kasus perebutan Kepulauan Senkaku antar Jepang dan Cina ini pun telah mengundang perhatian Amerika Serikat. Bahkan Amerika Serikat sempat mengeluarkan statement bahwa siap mengakomodasi Jepang jika memang Cina pada akhirnya akan menyerang Cina. Hal ini lazim karena seperti yang kita ketahui hubungan Cina dengan AS pun juga konfliktual dan selain itu pula Jepang merupakan aliansi AS di kawasan Asia Timur. Terlepas dari hal tersebut apabila memang jalur diplomasi tidak lagi memberikan titik temu bagi penyelesaian kasus ini maka bukan tidak mungkin perang dapat terjadi di kawasan ini. Apalagi baik Cina maupun Jepang tidak ada yang mau melonggarkan keinginannya untuk memasukkan Senkaku ke dalam kedaulatannya. Terutama Cina yang mempunyai kepentingan yang lebih banyak akan Kepulauan Senkaku ini, sebagaimana yang kita ketahui dalam mewujudkan kepentingannya Cina terkenal sangat agresif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Calvin.  Sengketa Regional Tiongkok-Jepang: Kepulauan Senkaku. http://hokonglim.blogspot.com/2012/01/sengketa-regional-tiongkok-jepang.html. diakses 1 Oktober 2012

HL.  Perang Meriam Air di Laut China, Picu Perang Sungguhan RRC-Jepang-Taiwan. http://luarnegeri.kompasiana.com/2012/09/26/perang-meriam-air-di-laut-china-picu-perang-sungguhan-rrc-jepang-taiwan. diakses 1 Oktober 2012

Jepang Mendeportasi Tujuh Aktivis Cina.  www.Liputan 6.com. diakses 1 Oktober 2012
Dzurek, Daniel. The Senkaku/Diaoyu Islands Disput. http://www.ibru.dur.ac.uk/resources/docs/senkaku.html. diakses 1 Oktober 2012

Mas’Oed, Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodolog. LP3ES: Jakarta

Plano, Jack C and Roy Olton. 1973. The International Dictionar. Wentern Michigan University: New York

 

Artikel ini disumbangkan oleh Gracelia Ananda sebagai Penulis Tamu

Join 1500+ Our Subscribers

Signup now and get the best posts weekly, and get free ebooks! | Daftar sekarang dan dapatkan artikel terbaik setiap minggunya. Dapatkan juga ebook gratis!

I will never give away, trade or sell your email address. You can unsubscribe at any time.

About Walter Pinem

Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

8 comments

  1. Mantap Gan, keep blogging..sukses

  2. belly januarta

    makasih yaa atas postingannya

  3. bukankah sebaiknya foot note itu bukan blog ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>