Home » Diplomasi » Korean Wave dan Peningkatan Perekonomian Korea Selatan
Korean Wave (Google.com)
Korean Wave (Google.com)

Korean Wave dan Peningkatan Perekonomian Korea Selatan

Korean Wave (Google.com)

Korean Wave (Google.com)

Korean Wave dan Peningkatan Perekonomian Korea Selatan

The Korean Wave/한류
Gelombang Korea (Korean Wave) adalah sebuah fenomena dimana terjadi peningkatan popularitas dari kebudayaan Korea Selatan yang digemari oleh orang-orang di luar Korea Selatan sendiri.

Korean Wave ini pertama kali tercetus pada pertengahan tahun 1999 di Cina oleh seorang jurnalis di Beijing yang terkejut akan popularitas dan minat dari masyarakat Cina terhadap kebudayaan Korea Selatan.

Korean Wave di Daratan Cina sendiri dimulai pada tahun 1993 dimana pada saat itu sinema elektronik dari Korea Selatan diimpor dan disiarkan oleh televisi CCTV. Dapat dikatakan Korean Wave dimulai dan menyebar lebih jauh ke negara tetangga setelah kebudayaan Korea Selatan terkenal di Cina (Sue Jin Lee, 2011, hlm.2).

“Bisa dianggap bahwa Korean Wave menjadi bentuk soft power atau pun diplomasi budaya yang dimiliki Korea Selatan sebagai penguat pengaruhnya di dunia internasional.”

Setelah fenomena Korean Wave di Cina, gelombang ini menyebar ke negara tetangga yang lain diantaranya adalah Jepang, negara-negara di Asia Timur, Timur Tengah, dan juga negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Eropa. Awal kemunculan Korean Wave menimbulkan reaksi yang berbeda di setiap negara, hal ini dikarenakan adanya perbedaan etos, dan kebudayaan, sehingga respon yang diterima dan dicerna oleh masyakarat menghasilkan output yang berbeda-beda. Dewasa ini, penyebaran Korean Wave ini menjadi fenomena dimana-mana di seluruh dunia, yang mana efeknya sekarang tidak hanya minat terhadap kebudayaan Korea Selatan saja namun juga ketertarikan terhadap gaya busana, kuliner, musik dan perfilman ala Korea Selatan.

Industri Film
Industri film di Korea Selatan merupakan faktor awal lahirnya Korean Wave. Sepuluh tahun yang lalu mungkin hanya drama-drama produksi Korea Selatan menjadi salah satu produk yang diimpor oleh negara tersebut. Drama produksi dari Korea Selatan menjadi daya tarik karena ceritanya yang dikemas dengan baik dan berkualitas. Drama dari Korea Selatan ini selalu membawa unsur-unsur kebudayaan dalam setiap filmnya, contohnya seperti gaya busana, makanan khas negara tersebut, atau daerah-daerah khas dari negara Korea Selatan. Hal-hal yang seperti inilah yang mampu menghipnotis penonton di dunia ini, sehingga secara tidak langsung penonton menyukai dan mencintai apa yang tokoh dalam drama tersebut lakukan, hal inilah yang menyebabkan kecintaan dan keinginan untuk mengikuti kebudayaan Korea Selatan. Industri film ini memberikan dampak baik kepada Korea Selatan, karena film dapat mencerminkan keadaan negara tersebut secara tidak langsung, contohnya seperti memperlihatkan teknologi Korea Selatan yang maju, masyarakatnya yang ramah, kebudayaan yang beragam, negara-negara dengan pemandangan yang indah yang mana akan menarik minat yang melihatnya untuk lebih dalam mengenal kebudayaan dari Korea Selatan.

Industri Musik
Industri musik di Korea Selatan merupakan salah satu faktor Korean Wave semakin menyebar. Musik di Korea Selatan sudah ada sejak Korea Selatan dan Korea Utara masih menjadi satu negara. Korean Pop atau yang lebih terkenal dengan sebutan K-Pop yang pertama kali muncul dikenal dengan sebutan Trot. Trot merupakan sebuah musik yang terinspirasi dari Japanese Pop dari Enka ketika Jepang menduduki Korea pada tahun 1910-1945. Musik Pop di Korea Selatan mulai berubah seiring dengan perkembangan zaman. Dewasa ini Musik Pop di Korea Selatan terpengaruh oleh musik-musik dari Amerika Serikat, seperti musik RnB, Rap, dan Hiphop. Namun menurut penulis majalah Rolling Stones, K-Pop merupakan sebuah musik hasil perpaduan antara musik trendi dari Amerika dan high-energy Japanese Pop. Musik Korea Selatan menarik perhatian banyak masyarakat tidak hanya di negara asalnya tetapi juga perhatian dari masyarakat di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan K-Pop memberikan tidak hanya audio yang enak didengar namun juga visual yang enak dilihat. BBC pernah menuliskan bahwa “Grup musik dari Korea Selatan seperti diantaranya Super Junior dan Wonder Girls adalah boy- dan girlband, yang para personilnya memiliki wajah yang rupawan dengan kemampuan tari yang baik dan musik yang catchy. Kebanyakan dari video musik di korea sangat berwarna dengan musik beat yang menarik, musisinya pun kebanyakan datang dari generasi muda yang rupawan sehingga banyak yang tertarik”[1]. Suara yang merdu, wajah rupawan, dan gaya busana unik dari Korea Selatan yang membuat musik K-Pop menjadi paket yang lengkap bagi para pecintanya. Pengaruh musik K-Pop sendiri sudah meyebar ke berbagai negara, khususnya negara-negara di Asia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya para penggemar dari boyband dan girlband Korea yang yang menjamur dimana-mana, tidak terkecuali di Indonesia. Dewasa ini generasi muda sudah sangat banyak yang mencintai dan menggemari musik dari Korea Selatan tersebut, sehingga tidak heran jika banyak sekali toko-toko yang menjual pernak-pernik dari musisi-musisi dari Korea Selatan.

Kontribusi Korean Wave dalam Kegiatan Ekspor dan Bidang Pariwisata
Saat terjadi krisis global pada tahun 1997, nilai perekonomian Korea Selatan melemah dan turun hingga 7%. Hal ini mengakibatkan pemerintah harus bekerja keras untuk mencari cara agar nilai perekonomiannya membaik. Pada saat itu pemerintah mencoba untuk mengandalkan industri makanan sebagai jalan alternatif, namun pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat membantu perekonomian membaik. Pemerintah Korea Selatan akhirnya menyadari bahwa negaranya terlambat dalam modernisasi. Pada awalnya negara tersebut hanya bergantung pada ekspor dari industri makanan dan manufaktur, yang pada kenyataannya tidak terlalu berhasil. Pemerintah Korea Selatan kemudian mencoba untuk mengekspor produk budaya bersamaan dengan produk manufaktur dan makanan, kemudian produk kebudayaan Korea Selatan ditempatkan bersama produk-produk kebudayaan dari negara lain di Pasar Asia. Pada saat itu Pasar Asia masih didominasi oleh produk kebudayaan dari Amerika Serikat, Jepang dan Cina. Seiring dengan berjalannya waktu, produk kebudayaan Korea Selatan semakin banyak digemari. Hal ini dikarenakan ada kemiripan budaya dengan negara-negarta pengimpor; seperti Cina, Jepang, Taiwan, dan negara-negara lain di Asia. Kebudayaan Korea Selatan dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat yang kebudayaannya sudah menjadi suatu adat yang ada di Asia, contohnya seperti nilai-nilai harmonis, komunitas, moralitas yang kuat, dan rasa hormat yang tinggi terhadap keluarga. Melihat respon yang baik dari masyarakat luar, pemerintah Korea Selatan lebih menekankan ekspor dari produk-produk kebudayaan. Hasilnya produk kebudayaan Korea Selatan semakin banyak digemari, khususnya dari industri film dan musik. Contohnya di Jepang, wanita paruh baya sangat menggemari drama Korea Selatan yang berjudul Winter Sonata karena dalam drama tersebut para pemeran sangat menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai yang baik terutama dalam sikap mereka terhadap orang tua. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan drama Korea Selatan cepat menyebar di Jepang, yang pada akhirnya penggemar drama tersebut lebih banyak dari drama lokal buatan negeri.

Kontribusi Korean Wave selain berperan besar dalam kegiatan ekspor ternyata juga sangat berpengaruh dalam peningkatan jumlah pariwisata ke Korea Selatan yang setiap tahun naik selama Korean Wave berlangsung. Apa yang ditonton orang terutama orang-orang di luar negeri dalam tayangan film-film drama Korea Selatan yang selalu menunjukkan bagaimana keindahan Korea dan nilai-nilai sosialnya, mampu menarik mereka untuk datang langsung melihat lokasi syuting film-film tersebut. Hal tersebut kemudian mampu menjadi pembangkit perekonomian yang baik bagi Korea Selatan.

Sektor pariwisata jelas sekali menjadi pembangkit perekonomian Korea Selatan yang kala itu sempat jatuh karena krisis yang melanda Asia. Hal tersebut dimanfaatkan pemerintah Korea Selatan untuk mendatangkan turis dengan sajian film-film drama dengan lokasi syuting-nya yang menunjukkan keindahan dan budaya hidup orang-orang Korea itu sendiri. Data tahun 2005 menunjukkan bahwa Hallyu menyokong GDP Korea Selatan sebanyak 0,2%. Hallyu menyokong $1,87 miliar atau 2,14 triliun won pada sektor ekspor dan pariwisata pada tahun 2004. Di kategori penjualan barang-barang lokal, Hallyu mampu menyumbang $918 miliar.[2]

Secara lebih rinci lagi, institut penelitian Korea Selatan mengatakan bahwa jumlah wisatawan mancanegara ke Korea Selatan meningkat dari 647.000 orang menjadi 968.000 orang pada tahun 2004. Meningkatnya wisatawan mancanegara ini disebabkan dengan meningkatnya masyarakat di luar Korea Selatan yang ingin berkunjung langsung ke Korea Selatan karena terkena demam Hallyu. Sebagai contohnya, banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Dae Jang Geum Village di Korea Selatan setelah menonton drama Dae Jang Geum (Jewel in the Palace).[3] Sebuah kota di Korea Selatan bernama kota Chuncheon, pada tahun 2003 wisatawan mancanegara yang berkunjung kesana sebesar 140.000 orang. Pada 2004 meningkat secara signifikan menjadi 370.000 orang dan kembali meningkat menjadi 390.000 orang di tahun 2005.[4]

Kesukaan terhadap produk-produk budaya dari Korea Selatan semakin banyak, hingga akhirnya pada tahun 1997, seorang jurnalis dari Beijing menuliskan bahwa Cina sedang dilanda oleh Korean Wave. Istilah Korean Wave adalah sebutan untuk menjelaskan nama fenomena masyarakat yang sedang tergila-gila pada kebudayaan Korea Selatan seperti apa yang mereka lihat dalam drama ataupun yang didengar dari musik. Melihat kesempatan ini pemerintah Korea Selatan mulai menggalakan ekspor produk budaya ke negara-negara tetangga yakni Cina dan Asia Timur. Pada tahun 1998, nilai ekspor budaya Korea Selatan di Pasar Asia mencapai $413 juta dan jumlahnya semakin meningkat pada tahun 2004 yang mencapai $939 juta[5]. Ekonomi Korea Selatan semakin membaik karena banyaknya permintaan produk-produk seperti album musik, film drama, serta banyaknya turis-turis mancanegara yang datang dari luar negeri karena tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat yang mereka lihat di dalam drama yang mereka sukai. Menurut data dari Ministry of Culture, Sport, and Tourism of South Korea pada tahun 2004 sampai dengan 2007, perekonomian  Korea Selatan hasil ekspor produk budaya dari industri film dan musik mengalami peningkatan.

Melihat peningkatan jumlah ekspor dari produk budaya setiap tahunnya, pemerintah Korea Selatan menjadikan fenomena Korean Wave sebagai salah satu soft power yang dapat diandalkan. Tidak hanya dalam industri hiburannya saja, pemerintah juga mempromosikan pariwisata agar banyak wisatawan asing yang berlibur ke Korea Selatan, sehingga devisa negaranya bertambah. Pemerintah Korea Selatan juga memberikan dana bantuan atau hibah kepada organisasi-organisasi di mancanegara yang ikut mengenalkan kebudayaan Korea Selatan. Hal tersebut dimaksudkan agar mereka bisa ikut mempromosikan nilai kebudayaan Korea Selatan tidak hanya melalui televisi namun juga bisa dilihat secara langsung.

Beberapa peneliti pernah mengatakan bahwa Korean Wave adalah suatu fenomena yang hanya sementara. Namun kenyataannya tidak sama sekali, setelah internet menjadi umum, Korean Wave justru semakin menjamur dan peminat terhadap produk budayanya semakin banyak. Internet menjadi tempat dimana para Netizens, sebutan bagi para pengguna internet untuk menonton dan mendengarkan berita atau produk terbaru dari industri hiburan yang mereka sukai. Fenomena baru-baru ini datang dari PSY. PSY adalah seorang musisi Korea Selatan yang menjadi pembicaraan masyarakat di dunia karena tariannya yang unik dan lagunya yang catchy. Penyanyi solo ini mendapat respon yang sangat hebat dari para penggemarnya di seluruh dunia, tidak hanya dari negara-negara Asia saja, ketenarannya juga mencapai Eropa dan Amerika Serikat. Secara tidak langsung PSY meningkatkan jumlah ekspor Korea Selatan ke mancanegara. Tidak hanya dari hasil penjualan album musik saja, konser-konser dari para musisi Korea Selatan di mancanegara juga menjadi perhitungan, pada tahun 2012 banyak sekali para musisi yang melakukan Tour keliling dunia untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya yang secara tidak langsung mempromosikan pariwisata Korea Selatan dan mempererat kerjasama dengan negara yang dituju. Dari data diatas dapat kita lihat bahwa hallyu berkontribusi dalam peningkatan nilai ekonomi di Korea Selatan, khususnya pada tahun 1997 saat terjadi krisis ekonomi global. Korea Selatan dengan baik dapat menjadikan budaya mereka sebagai soft power yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai kepentingan nasional, selain itu kebudayaannya juga menjadi dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia.

Industry Total revenue Exports Jobs
Animation 135.5 billion 35.2 billion 4,624 jobs
Broadcasting (including independent broadcasting video producers) 213.5 billion 2.2 billion 4,714 jobs
Cartoon 183.2 billion 4.7 billion 209,964 jobs (cartoon and publishing combined)
Character 1,882.9 billion 111.6 billion 26,560 jobs
Gaming 2,412.5 billion 662.5 billion 97,072 jobs
Knowledge/Information 2,123.1 billion 105.2 billion 51,348 jobs
Motion Picture 903.8 billion 15.6 billion 30,787 jobs
Music 997.3 billion 48.5 billion 78,728 jobs
Publishing 5,284.6 billion 65 billion 209,964 jobs (cartoo combined)

Cultural Imperialism
Bagi Korea Selatan dampak adanya fenomena hallyu menjadi efek positif bagi negara, selain income dari produk ekspor meningkat dan negara mereka semakin dikenal di kancah internasional, efek hallyu ini membawa efek negatif bagi negara lain. Dampak bagi negara lain adalah adanya imperialisme budaya, dimana adanya penguasaan budaya asli oleh budaya lain dilihat secara nilai, norma, etika, cara pandang, dan gaya hidup. Film dan musik Korea Selatan sedang marak dimana-mana menjamur di beberapa negara dan menghipnotis para penontonnya. Penonton yang melihat dan menyukainya secara tidak langsung menyukai apa yang idola mereka kenakan, makan, bahkan perilaku mereka. Negara Indonesia menjadi salah satu bukti konkrit terhadap imperialisme budaya. Pada pertengahan tahun 2011 mulai banyak musisi-musisi Indonesia yang mengikuti gaya-gaya dari musisi Korea Selatan, kebanyakan dari mereka membentuk boys band dan girls band dengan nuansa musik, tari, dan busana ala musisi Korea Selatan. Secara tidak langsung industri musik Indonesia telah dikuasai oleh budaya dari Korea Selatan. Tidak hanya itu saja dari segi penjualan album orisinal, penjualan album dari Korea Selatan lebih banyak terjual, hal ini dikarenakan kemasan album Korea Selatan lebih menarik dan unik, sedangkan produk lokal bisa dibilang cenderung monoton. Tidak hanya di Indonesia saja, di India juga kebudayaan Korea Selatan akibat dari fenomena hallyu ini sudah masuk dan menjadi trend. Di daerah kecil di India bernama Manipur, hallyu sudah menjangkit para penduduknya. Banyak warga Manipur yang berbusana ala orang-orang Korea Selatan dengan baju mencolok dan tatanan rambut seperti idola yang mereka lihat dalam televisi. Padahal seperti yang kita ketahui, India sangat kental dengan kebudayaan mereka yang seperti pemakaian kain sari pada perempuan, namun pada kenyataannya budaya mereka dapat dimasuki oleh kebudayaan dari negara lain.

 

KESIMPULAN 

Kebudayaan sebuah negara dapat menjadi soft power bagi mencapai kepentingan nasional. Hal ini dapat dilihat dari Korea Selatan yang menjadikan fenomena hallyu untuk dijadikan instrumen dalam memperbaiki nilai ekonomi dan memberikan citra baik terhadap negaranya. Hallyu mungkin tidak akan seterkenal sekarang apabila dulu Korea Selatan tidak memberanikan diri untuk mengekspor produk budaya mereka di Pasar Asia. Dengan berjalannya waktu hallyu semakin fenomenal tidak hanya di negara-negara tetangga seperti Cina, Jepang, Taiwan saja, namun juga sudah menjamur di negara Asia Timur, Timur Tengah, bahkan Eropa dan Amerika. Keberadaan internet semakin mempermudah hallyu untuk berkembang dan meluas, hal ini dibuktikan dengan banyaknya respon yang baik di dunia maya terhadap musik dan film dari Korea Selatan. Secara tidak langsung internet membantu Korea Selatan untuk mepromosikan dan menjual produk kebudayaan yang mereka produksi. Fenomena hallyu telah berkontribusi untuk pemerintah karena adanya fenomena ini telah meningkatkan jumlah ekspor dari sektor industri hiburan, makanan, manufaktur, teknologi, serta dari pariwisata.

Produk ekspor yang dimanfaatkan oleh pemerintah Korea Selatan dalam memperbaiki perekonomian mereka pasca krisis merupakan hasil langsung dari Korean Wave yang sedang melanda. Di sisi lain, peningkatan perekonomian Korea Selatan juga sangat terbantu dari bidang pariwisata, terlebih peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Korea Selatan  terus meningkat seiring Korean Wave yang semakin menyebar. Dengan demikian, Korean Wave yang merupakan representasi dari penggunaan softpower dengan penyebaran nilai-nilai budaya kepada dunia internasional memiliki kontribusi yang sangat tinggi dalam membantu peningkatan perekonomian Korea Selatan terutama dari sektor ekspor dan pariwisata pasca krisis Asia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lee, Sue jin. 2011. “The Korean Wave: Seoul of Asia”. North Carolina: Elon University.

Jonghoe, Yang. 2012. “The Korean Wave (Hallyu) in East Asia: A Comparison of Chinese, Japanese, and Taiwanese Audiences Who Watch Korean TV Dramas”.

Shin-Eui, Park. 2012. “The Korean Wave: Cultivating a Global Fandom”. Korea Selatan: Kyungho University.

Kim, J. & Ni, L. (2012). The nexus between hallyu and soft power: Cultural public diplomacy in the era of sociological globalism. In D. Kim & M. Kim (Eds.), Hallyu: Influence of Korean popular culture in Asia and beyond. Seoul: Seoul National University Press.

Anonymous. 2010. “A Korean Wave washes warmly over Asia”. Dalam http://www.economist.com/node/15385735 diakses pada 16 November 2012.

Sue-young, Kim. 2008. “Korean Wave Hallyu Abroad Waning,”. Dalam http://www.koreatimes.co.kr/www/news/special/2008/05/180_23641.html, diakses pada 29 November 2012.

____________________

[1] Lucy Williamson, The BBC News: Sisi gelap dari musik pop Korea Selatan, Illustrasi http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-13760064, diakses PADA 15 November 2012.

[2] English.visitkorea.or.kr/enu/FU/FU_EN_15.jsp?cid=288934, diakses pada 29 November 2012.

[3] Aminah Linda Wardani (2011), Pengaruh Hallyuwood bagi Peningkatan Sektor Pariwisata Korea Selatan, Surakarta.

[4] Kim Sue-young (2008), Korean Wave Hallyu Abroad Waning, http://www.koreatimes.co.kr/www/news/special/2008/05/180_23641.html, diakses pada 29 November 2012.

[5] Joeng Hoe Yang, The Korean Wave in East  Asia, 2012.

 

Artikel ini ditulis oleh Mochammad Ikhsan dan Walter D.T Pinem

Join 1500+ Our Subscribers

Signup now and get the best posts weekly, and get free ebooks! | Daftar sekarang dan dapatkan artikel terbaik setiap minggunya. Dapatkan juga ebook gratis!

I will never give away, trade or sell your email address. You can unsubscribe at any time.

About Walter Pinem

Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

Kebijakan Berkomentar Berlaku Sejak Juni 2015

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan ingin memberikan tanggapan/komentar Anda mengenai tulisan ini. Namun sebelum memberikan tanggapan, mohon baca terlebih dahulu kebijakan berikut ini:

Perlu diketahui bahwa seluruh komentar yang masuk dimoderasi secara teliti dan SPAM tidak akan pernah diterima!.

Komentar harus berhubungan dengan topik tulisan.

Mohon untuk menggunakan nama asli (bukan kata kunci/nama website), alamat email asli dan URL website Anda ke kotak yang sudah tersedia.

Jangan pernah memasukkan URL langsung ke dalam kolom komentar, atau kami tidak akan pernah menerimanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*