Abraham Lincoln adalah Presiden AS yang ke – 16, yang memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan[1]. Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Pembebasan atau biasa yang dikenal dengan Proclamation Emancipation yang mengubah  hidup banyak orang di Amerika. Proklamasi itu menyatakan semua budak yang dibeli di negara-negara bagian ataupun daerah-daerah negara-negara bagian yang melawan AS akan bebas mulai 1 Januari 1863[2]. Proklamasi itu mencetuskan semangat semua orang yang memperjuangkan kebebasan, dan menjadi pendorong penghapusan perbudakan di AS[3].

ANALISA TOKOH: Abraham Lincoln

            Pertama, jika mengacu pada definisi seorang pemimpin global, Abraham Lincoln bukanlah seorang pemimpin global. Dia memang seorang Presiden AS yang mempunyai kiprah sangat besar bagi kesetaraan di AS, bahkan di dunia sekalipun.

Seorang pemimpin global diartikan sebagai individu yang bisa membawa dampak perubahan positif dalam organisasinya dengan cara membangun komunitas dengan cara membangun kepercayaan, mau mengatur struktur organisasi, dan proses kedua hal tersebut harus dalam situasi dimana ia melibatkan banyak pemangku kepentingan yang sifatnya lintas otoritas, lintas budaya, dan lintas geografis.

Jadi jika mengacu pada definisi diatas, Abraham Lincoln memang seorang individu yang membawa dampak perubahan positif dalam organisasinya, dimana beliau berjuang untuk mendapat persetujuan dari House of Resepresentatives AS untuk mendapat persetujuan agar beliau dapat mengamandemenkan konstitusi AS yang berkaitan dengan pembebasan budak dan kesetaraan.

Hal ini dilakukan dengan cara membangun kepercayaan terhadap anggota House of Resepresentatives sehingga pada akhirnya mereka menyetujui untuk setuju dengan ide Abraham Lincoln mengenai konstitusi tersebut. Beliau terbukti sebagai salah satu Presiden AS terbaik sepanjang masa karena kontribusinya.

BACA JUGA:  Cara Mengetahui Theme Wordpress Yang Digunakan

Namun sayangnya, pembuatan kebijakan yang membawa dampak positif ini hanya dilakukan di lingkungan Pemerintah AS saja, tidak melibatkan pemangku kepentingan dari lintas budaya, lintas otoritas, dan lintas geografis. Dan kebijakan pada awalnya hanya ditujukan untuk konstitusi AS, namun hal ini mempengaruhi pandangan dunia mengenai kesetaraan pada jaman sekarang.

Yang kedua adalah dianalisa dari pendekatan sebagai berikut; Trait Approach, Behaviour Approach, dan Power Influence Approach. Jika dilihat dari pendekatan karakter dan sifat (trait approach), Abraham Lincoln adalah sosok pemimpin yang sangat hebat. Dia dikenal bersifat sederhana dan rendah hati.

Beliau merupakan sosok pemimpin yang mau mendengarkan pendapat dan kritikan orang lain atas dirinya, tanpa membuat orang tersebut takut atau malu untuk menyampaikan pendapatnya. Beliau juga sosok yang tidak mementingkan dirinya sendiri, ketika beliau terpilih menjadi Presiden AS, beliau bersikukuh untuk membuat kesetaraan di AS walaupun pada saat itu beliau ditentang oleh Pemerintah AS lainnya.

Selain itu, karakter kepemimpinannya yang hebat adalah beliau mau turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi wilayah yang beliau pimpin.

abraham lincoln

Karakter dan sifat beliau ini terlihat jelas dalam film yang berjudul Lincoln, yang menceritakan tentang dirinya. Di film tersebut, beliau mengunjungi dan bercakap – cakap dengan tentara di barak mereka. Beliau juga tidak segan – segan mengadakan pertemuan dengan warga negaranya, dan membiarkan mereka untuk memberikan pendapat dan kritikan untuk dirinya.

Dari sisi behaviour approach, dapat dilihat dari segi tugas dimana beliau menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Sebelum beliau wafat, beliau telah berhasil memproklamasikan kesetaraan dan mengamandemenkan kesetaraan di AS. Apa yang telah beliau perbuat sangatlah berarti, khususnya bagi para budak.

BACA JUGA:  Teori Kepentingan Nasional Konflik Laut Cina Selatan

Dari segi orang sekitar, beliau sangat rendah hati terhadap orang – orang yang bekerja dengannya. Beliau tidak segan – segan mendengarkan pendapat mereka, dan mereka boleh untuk tidak setuju dengannya tanpa rasa takut. Lalu yang terakhir adalah power influence approach, dimana orang – orang AS meyakini bahwa beliau mempunyai keahlian yang dapat membawa perubahan positif, sehingga beliau diberikan legitimasi untuk menjadi Presiden AS.

Yang terakhir mengacu pada nilai kepemimpinan Abraham Lincoln. Pertama Leaders Don’t Wait. Beliau mempunyai semangat pro aktif untuk memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan Presiden AS sebelumnya, yaitu mengamandemen konstitusi AS untuk menghapuskan perbudakan. Sehingga semangatnya ini membuahkan hasil dimana diamandemennya konstitusi mengenai perbudakan yang telah melewati perundingan yang sangat alot.

Kedua, Character Counts, beliau mempunyai keinginan untuk melihat kedepan dan beliau mempunyai kompetensi sehingga dapat memberikan inspirasi bagi orang banyak. Dengan konstitusi yang ingin dibuatnya, hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak mau ada perbudakan dimasa mendatang sehingga hak mereka untuk hidup bebas dan tidak menjadi budak harus dipenuhi. Dengan ini, pada masa mendatang kehidupan warga negara AS akan lebih terjamin.

Ketiga, You Can’t Do It Alone, walaupun beliau adalah seorang Presiden AS yang memutuskan sesuatu sendiri, tetapi beliau melibatkan semua anggota pemerintahan untuk membuat konsensus. Contohnya saja ketika pembuatan amandemen konstitusi yang bertujuan untuk menghapus perbudakan.

Hal ini memang beliau seorang yang menggagas, tetapi amandemen ini dapat dilakukan setelah disetujui oleh House of Resepresentatives dengan cara voting, sehingga tercapailah kesepakatan bersama untuk membuat konstitusi ini.

BACA JUGA:  Efek Negatif Media dan Televisi

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang mau berbagi kesuksesan dengan orang – orang yang terlibat didalamnya. Ketika beliau berhasil mencapai sesuatu, beliau akan mengatakan bahwa apa yang dia capai adalah kerja sama antara dirinya dan orang lain (not a solo act).

Keempat, The Legacy You Leave is The Life You Lead, Abraham Lincoln dikenal sebagai salah satu Presiden AS terbaik karena kiprahnya yang menghapuskan perbudakan dan menjunjung kesetaraan. Hal inilah yang diingat orang ketika beliau sudah tiada.

Beliau juga seorang pemimpin yang mau berpartisipasi langsung dalam memimpin negaranya. Beliau mau bertemu langsung dengan warganya untuk mendengar kritikan dan pendapatnya dan berpartisipasi langsung. Beliau akan mengadakan apa yang disebut ‘public opinion baths’ dimana beliau menjabat tangan semua orang yang ada di forum tersebut dan berbincang satu – satu dengan mereka.

Apa yang dilakukan Abraham Lincoln dan bagaimana karakteristiknya sebagai pemimpin, beliau pantas dikatakan sebagai seorang pemimpin yang hebat. Dan seharusnya pemimpin di dunia ini, khususnya di Indonesia mencontoh apa yang dilakukan beliau dan bagaimana karakteristik serta kepemimpinannya.

 


                [1]Suhindriyo. 1999. Biografi Singkat Presiden-Presiden Amerika Serikat. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, hlm. 56.

                [2]http://www.archives.gov/historical-docs/document.html?doc=8&title.raw=Emancipation%20Proclamation, diakses pada tanggal 21 Februari 2013.

                [3] Ibid.

 

 

Artikel ini disumbangkan oleh Poetika Puspasari sebagai Penulis Tamu.

SHARE
Artikel SebelumnyaPenyebab Konflik Korea Utara dan Selatan di Tahun 2013
Artikel SelanjutnyaPolicy Brief Indonesia
Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

TINGGALKAN KOMENTAR