Siapkah Indonesia Menurunkan Derajat Hubungan Bilateral dengan Australia?

Siapkah Indonesia Menurunkan Derajat Hubungan Bilateral dengan Australia? – Beberapa minggu terakhir media lokal Indonesia dan Australia sedang heboh memberitakan masalah penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap Indonesia.

Hal ini menimbulkan kontroversi karena sesungguhnya kedua negara telah mengadakan kerjasama antar badan intelijen dan pertukaran informasi berdasarkan Traktat Lombok 2006.

Traktat Lombok 2006 berisi soal pertahanan dan keamanan kedua negara. Dalam perjanjian tersebut dijelaskan bahwa kedua negara berkomitmen untuk saling berkonsultasi dalam bidang terorisme, pertahanan, dan berbagi informasi keamanan dan intelejen.

Namun, penyadapan yang dilakukan oleh Australia sungguh mencederai prinsip negara bersahabat dan bertetangga dekat. Penyadapan pada tahun 2007 itu dilakukan terhadap sekitar 10 orang pejabat Indonesia di antaranya yaitu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa (Sekretaris Kabinet saat itu) dan Sri Mulyani (Menko Ekuin saat itu).

Kecurangan tersebut terungkap dari dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden, mantan agen CIA, yang diterbitkan oleh 2 media massa negara Australia, Guardian dan ABC.

Sikap masyarakat dan pemerintah setelah munculnya isu penyadapan ini, ada beberapa tindakan dari masyarakat dan pemerintah yang menuntut Pemerintah Australia meminta maaf dan bertanggungjawab atas penyadapan tersebut. Pada lapisan masyarakat, demo ke Kedubes Australia semakin sering untuk menuntut permintaan maaf Australia.

0,,17245449_303,00

Selain demonstrasi, di dunia maya juga terjadi aksi saling serang antara hacker Indonesia dan Australia. Hacker Indonesia sukses meretas situs-situs yang berasal dari Australia seperti situs Kepolisian Federal Australia (AFP) dan Bank Sentral Australia.

Pemerintah juga mengirim surat ke pihak Australia meminta penjelasan dan menarik Duta Besarnya di Australia untuk dimintai keterangan. Selain itu, konflik ini juga merembet ke bidang militer dan bisnis. Di bidang militer, pemerintah Indonesia menghentikan sementara kerjasama militer dan intelijen seperti latihan bersama dan saling tukar informasi intelijen.

Sedangkan pada bidang bisnis, PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) selaku perusahaan plat merah menghentikan sementara perundingan dengan peternak dari Australia untuk investasi sebesar Rp 350 milyar terhadap tiga atau empat peternakan disana.

Menilik hubungan investasi Australia dan Indonesia sebenarnya kedua negara ini saling membutuhkan. Australia merupakan salah satu pengekspor produk pertanian seperti ternak hidup dan gandum terbesar ke Indonesia sedangkan Indonesia merupakan negara nomor sepuluh pengekspor berbagai macam produk ke Australia.

Pada tahun 2012, tercatat nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 10,2 Miliar dolar AS. Australia merupakan salah satu dari sepuluh negara terbesar yang berinvestasi di Indonesia, tercatat tahun 2012 total investasi Australia di Indonesia mencapai sekitar 743,6 juta dolar AS. Sehingga, Australia tercatat sebagai salah satu mitra perdagangan strategis bagi Indonesia.

Melihat faktor-faktor tersebut, beranikah Pemerintah Indonesia menurunkan derajat hubungan bilateral dengan Australia? Siapkah pemerintah mencari investor dari negara lain?

Sejujurnya, Australia juga membutuhkan Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Perdagangan dan Investasi Australia, Andrew Robb, kepada media Theconversation.com, “Indonesia has a middle class twice the size of Australia’s population and, given its proximity, it is a market Australia should develop, so invest in Indonesia would be great”. Intinya, Australia melihat Indonesia sebagai pasar yang besar ditunjang dengan adanya pertumbuhan yang pesat dan besar jumlah kaum menengah Indonesia.

 

Artikel ini disumbangkan oleh Fadli Firmansyah sebagai Penulis Tamu.

Sumber Gambar:

Gambar 1

Gambar 2

Fadli Firmansyahhttps://twitter.com/FadFir
Seorang pecinta ilmu Hubungan Internasional.

Bacaan SelanjutnyaPENTING
Topik Menarik Lain

Review Buku: RSE dans le cas Malaisien

Review Buku RSE dans le cas Malaisien - Sebuah buku monografi yang terdiri dari 60 halaman di sebuah negara kecil dengan 29 juta orang...

Teori Kepentingan Nasional Konflik Laut Cina Selatan

Teori Kepentingan Nasional dalam Kasus Laut Cina Selatan - Negara di dalam pemerintahannya dan dalam membangun atau mengembangkan negaranya, baik itu internal maupun eksternal, hendaklah...

Sejarah Singkat Revolusi Perancis

Sejarah Singkat Revolusi Perancis - Revolusi Perancis merupakan salah satu tragedi penting dalam sejarah dunia dan peristiwa besar ini juga berpengaruh dalam perkembangan studi ilmu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ikuti Kami!

1,374FansLike
798FollowersFollow
210SubscribersSubscribe

Terpopuler

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!