Tantangan Menuju Gemerlap Pembangunan – Manifestasi pembangunan tercermin dalam berbagai dimensi yang digerakan oleh modal. Praktik mengelola manfaat dan peluang, membutuhkan elemen pendukung yaitu sumber daya manusia dan transfer teknologi.

Dewasa ini, logika pembangunan menitikberatkan pada sumberdaya aktor intelektual. Analoginya, manusia sebagai powerful actor ditempatkan sebagai subyek yang terampil “menggerakan” negara.

Hingar-bingar pembangunan abad ini seyogianya tidak lepas dari lahirnya revolusi Industri Inggris pada Abad 18 (1750-1850). Pada fase tersebut titik nadir pembangunan mulai bergerak. Revolusi tersebut sekaligus disadari sebagai peristiwa monumental karena telah mengalirkan arus inovasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dari model agraris (konvensional) menjadi temporer (modern).

Kendati demikian, setiap lompatan peristiwa baik konvensional maupun kontemporer (modern) menghadirkan segala macam tawaran dan konsekuensi. Geliat persaingan menuju abad pembangunan terus berlanjut menuju fase penyempurnaan ide-ide keilmuan.

Transformasi tersebut sekaligus sebagai tanda dimulainya persaingan mengkonversi peluang. Namun, negara dengan sumberdaya manusia dan kapital yang minim, berpotensi menjadi penonton di tengah gemerlap globalisasi. Dengan begitu, aktor pemikir terus berlomba mencari jalan peradaban baru.

BACA JUGA:  20 Quote Terbaik John Lennon dari The Beatles

Pada dasarnya, setiap lompatan perkembangan tidak bergerak sendiri tanpa digerakan secara logis dan rasional. Peran aktor intelektual menjadi penting, sebab dewasa ini, legitimasi nation-state tidak lagi sebagai pelaku tunggal pembangunan.

Konsep itu telah bertransformasi seiring derasnya arus kapitalisme modern yang telah menyusup sendi-sendi kehidupan negara. Mazhab kapitalis menciptakan mantra pembangunan berbasis market.

Pasar tenaga kerja maupun ekonomi diwarnai beragam kompetisi sehingga keunggulan sumberdaya manusia sebaga syarat mutlak (sine qua non) dalam mendukung kegunaan nilai dan fungsi teknologi dengan berbagai identifikasi, kajian serta riset keilmuan (scientist).

Peluang inovasi tercipta melalui riset atau kajian ilmiah yang diprakarsai para pakar dan peneliti. Dalam artian, indikator dan keberhasilan pembangunan, dapat diukur dari kompetensi maupun kesiapan kelompok intelektual.

Ditengah pergerakan zaman, peneliti memegang kendali penting sebagai poros kemajuan negara bangsa (nation-state). Kecakapan dan wawasan intelektual menjadi syarat sekaligus kebutuhan yang mesti dipenuhi.

Melihat kondisi hari ini, Indonesia tampaknya agak urgen menghadapi arus persaingan akibat sempitnya ketersediaan aktor pembangunan. Misalnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai basis riset di Indonesia saja saat ini masih sepi tenaga peneliti. Ketersediaan peneliti (researcher) baru mencapai sekitar 1300-an.

BACA JUGA:  British Assessment, Penyedia Sertifikasi ISO Terpercaya Kini Hadir di Indonesia

Sementara jumlah ideal bagi lembaga riset tertua dan terbesar di Indonesia itu setidaknya membutuhkan lima ribu-an researcher. LIPI (24/8/2015).

Sepinya ruang inovasi membuat naluri pembangunan lemah. Data LIPI mencatat, tren pertumbuhan jumlah peneliti di Indonesia masih kecil dibanding negara lainnya. Negara maju seperti Amerika Serikat memiliki 3.000 peneliti per satu juta penduduk. Sedangkan, Korea Selatan menghasilkan 4.000 peneliti per satu juta penduduknya. Sementara Indonesia, rasio peneliti hanya 34 peneliti per satu juta penduduk.

Komparasi tersebut meggambarkan adanya jurang kapasitas dalam kompetisi mengejar kesetaraan. Ketimpangan generasi menggambarkan ketidakadilan di masa mendatang akan. Gejala ini sekalgus membuka ruang-ruang baru menuju abad ketergantungan antara negara produksionis dan konsumer. Ketika unsur dependensi berjalan inheren, bisa diproyeksikan negara berkembang semakin sulit menciptakan kemandirian dan legitimasi.

 

Artikel ini disumbangkan oleh Ed

SHARE
Artikel SebelumnyaKisah Tentang Kurt Cobain: Legenda yang Gila
Artikel SelanjutnyaReview Cloudkilat: Hosting Lokal Murah dan Cepat
Nama saya Everd Scor Rider Daniel, umur 24 tahun dan berasal dari Timor Leste (status kewarganegaraan Indonesia). Saat ini berdomisili di Salemba, Jakarta Pusat. Saya telah memperoleh gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), jurusan Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Saat ini, berprofesi sebagai wartawan di media portal hukum dan politik. Aktifitas sehari-hari penulis aktif website media dan pengasuh blog pribadi (suara-pikiran.blogspot.com). Pernah menjadi kontributor buletin kampus di Lab Kajian Organisasi Internasional UPN “Veteran Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR