Teori Neorealisme dalam Konflik India – Pakistan – Teori neorealisme pada dasarnya menekankan pada bagaimana sistem internasional yang anarki ternyata bisa menjadi damai dengan adanya konsep balance of power, dimana sebelumnya pada teori realisme negara merupakan aktor yang egois dan ingin berkuasa sendiri namun ternyata di teori neorealisme dapat juga bekerjasama.

Dalam tulisan ini, teori neorealisme digunakan sebagai landasan untuk menjelaskan konflik perlombaan senjata antara India dan Pakistan, yang hingga saat ini masih saja memanas.

Latar Belakang

Konflik Kashmir yang melibatkan negara yang saling berbatasan, India dan Pakistan belum mencapai kesepakatan hingga kini, akhirnya mendorong munculnya masalah-masalah baru seperti perlombaan senjata. Baik India maupun Pakistan merasa salah satunya merupakan ancaman yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Persepsi tersebut menyebabkan kedua negara tidak pernah berpandangan positif satu sama lain[1]. Hal ini membuat isu perlombaan senjata antara kedua negara tidak kunjung selesai.

Bulan September 2012 adalah pertama kalinya dalam waktu tiga bulan terakhir Pakistan melakukan uji coba atas rudal jarak menengah dengan fitur siluman. Rudal ini pula mampu membawa hulu ledak nuklir. India dan Pakistan terus bersaing dalam bidang apapun hingga saat ini. Kedua negara tetangga ini, kerap saling bersaing dalam teknologi militer khususnya rudal dengan hulu ledak nuklir sejak 1998[2].

Sebelumnya pada bulan April 2012 lalu, India juga melakukan uji coba rudal jarak jauh. Dan beberapa hari setelah India melakukan uji coba ini, giliran Pakistan menyusul dengan meluncurkan rudal balistik berhulu ledak nuklir[3]. Kepentingan kedua negara inilah yang tidak pernah menyelesaikan sengketa. Kedua negara saling melancarkan berbagai aksi untuk mengancam satu sama lainnya.

Masalah perlombaan senjata nuklir antara kedua negara menjadi pemicu utama yang menimbulkan kekhawatiran dalam bidang keamanan regional. Kedua negara ini seakan-akan berlomba untuk memperkuat senjata nuklir untuk menunjukkan kekuatan masing-masing negara. Jika salah satu negara tersebut melancarkan senjata nuklirnya, maka dampak yang terjadi tidak hanya akan meliputi negara lawan, melainkan kawasannya atau bahkan dunia global.

Menurut Analis pertahanan jenderal pensiunan Talat Masood , uji coba peluncuran rudal nuklir oleh India dan Pakistan merupakan bentuk persaingan yang telah terjadi sejak keduanya meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1947. Hubungan keduanya menghangat setahun terakhir, khususnya dalam bidang perdagangan, tapi sebetulnya kedua negara saling bermusuhan dan secara teratur melakukan uji coba sistem persenjataan untuk menunjukkan kekuatan militer masing-masing negara[4].

BACA JUGA:  Diplomasi: Struktur Badan Kementerian Luar Negeri RI

Konsep Balance of Power (Neorealisme)

Balance of Power mengacu pada suatu kondisi negara – negara kuat untuk mencapai suatu keseimbangan atau equilibrium[1]. Balance of power merupakan konsep dari pemikiran Neorealisme. Menurut Mearsheimer yang dikutip dalam buku “Balance of Power In World History” oleh Stuart J. Kaufman, Richard Little dan William C. Wohlforth, negara – negara kuat (great powers) akan berusaha untuk mempertahankan hegemoni mereka di dunia. Usaha – usaha negara ini untuk mempertahankan hegemoni mereka bisa dilakukan dengan menyeimbangkan kekuatan negara mereka satu sama lain. Mereka bersaing satu sama lain agar tidak ketinggalan, sehingga nantinya akan muncul keseimbangan atau equilibrium. Namun sayangnya, konsep balance of power ini mengakibatkan terjadinya arms race atau perlombaan senjata. Jika diartikan arms race atau perlombaan senjata adalah usaha kompetitif terus menerus (secara militer) yang dilakukan oleh dua atau lebih negara yang masing-masing memiliki kapabilitas untuk membuat senjata lebih banyak dan lebih kuat daripada yang lain[2].

Menurut Kenneth Waltz dalam bukunya The Theory of International Politics: “balance of power cenderung membentuk pola apakah beberapa atau semua negara bertujuan untuk keseimbangan, atau apakah beberapa atau semua negara bertujuan untuk mencapai dominasi universal”. Menurut T. V. Paul dalam bukunya yang berjudul “Balance of Power and Practice in 21st Century” menyatakan balance of power pada dasarnya terbagi atas 3 jenis, yaitu; 1). Hard Balancing, yang biasa terjadi diantara negara-negara yang terlibat dalam persaingan intens atau konflik, sehingga mereka terus memperbaharui kapabilitas militer mereka, 2). Soft Balancing, yang terjadi ketika negara-negara berkembang pada umumnya mempunyai pemahaman keamanan yang terbatas dengan satu sama lain untuk menyeimbangkan keadaan yang berpotensi mengancam atau meningkatnya daya, dan 3). Asymmetric Balancing mengacu pada upaya oleh negara-negara untuk menyeimbangkan dan ancaman tidak langsung yang ditimbulkan oleh aktor subnasional seperti kelompok teroris.

BACA JUGA:  Wujud Modernisasi Militer Cina

Analisa Masalah dari Perspektif Balance of Power (Neorealisme)

Pada dasarnya balance of power digunakan untuk mencapai keseimbangan dan perdamaian di sistem internasional, dan dilakukan untuk mencegah dominasi satu negara adidaya di sistem internasional. Namun, balance of power dapat menyebabkan perlombaan senjata atau arms race, seperti yang terjadi di kawasan Asia Selatan antara India dan Pakistan.

Kasus perlombaan senjata yang terjadi antara India dan Pakistan ini terjadi karena kedua negara yang berbatasan ini menghadapi konflik perebutan wilayah Kashmir semenjak tahun 1947. India dan Pakistan merupakan dua negara besar yang mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi kawasan Asia Selatan. Kedua negara ini tidak mau ketinggalan dalam bidang militer, jika salah satu negara memperkenalkan senjata baru, negara yang satu pun akan berbuat demikian. Hal ini jika dilihat dari perspektif balance of power adalah akibat dari ambisi kedua negara untuk mempertahankan hegemoni mereka di kawasan dan kedua negara tidak mau ketinggalan dalam bidang militer, sehingga muncul persaingan atau perlombaan senjata.

Karena jika salah satu negara berhenti melakukan penyeimbangan power, maka negara tersebut akan tertinggal secara kualitatif dan kuantitatif. Sehingga hegemoni mereka juga akan tereduksi. Dan equilibrium pun tidak akan tercapai, yang tercapai hanya satu kekuasaan hegemon atau yang disebut unipolar.

Jika dilihat dari konsep balance of power, kedua negara melakukan persaingan senjata untuk menghindari tekanan atau dominasi dari salah satu negara, apalagi kedua negara itu terlibat dalam konflik yang sampai sekarang belum terselesaikan. Dan perlombaan senjata ini akan terus terjadi seiring konflik kedua negara akan semakin memanas.

Perlombaan senjata antar kedua negara ini juga terjadi karena adanya ketakutan salah satu negara akan menjadi lebih unggul dan lebih mendominasi, sehingga wilayah Kashmir yang selama ini mereka perebutkan akan jatuh ke tangan salah satu negara. Selain untuk mempertahankan hegemoni dan mencegah dari ketertinggalan satu sama lain, perlombaan senjata ini dapat dikatakan sebagai salah satu cara untuk mencapai kepentingan nasional negara masing – masing, yaitu mempertahankan kedaulatan dan keamanan negara.

BACA JUGA:  Sejarah Singkat Revolusi Perancis

Jika melihat dari asal usul terjadinya kasus ini, sebenarnya pembuatan senjata nuklir atau rudal kedua negara ini di lakukan untuk menyeimbangkan kekuatan di kawasan oleh negara – negara kuat atau negara – negara yang mempunyai pengaruh besar terhadap kawasan Asia Selatan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan konflik perebutan wilayah belum terselesaikan sampai sekarang, hal ini berujung pada perlombaan senjata kedua negara yang sama – sama ingin menjaga dominasi dan hegemon di kawasan.

Dan jika mengacu pada pendapat T. V. Paul, perlombaan senjata yang terjadi antara India dan Pakistan terjadi akibat hard balancing diantara kedua negara, dimana hal ini terjadi antar dua negara yang sedang berkonflik dan dilakukan bukan hanya untuk menjaga keseimbangan tetapi untuk mencapai atau mempertahankan hegemoni India dan Pakistan di kawasan.

Namun dengan adanya arms race ini, perdamaian negatif terjadi antar kedua negara dan kondisi persaingan akan memperpanas hubungan kedua negara ini, bahkan hubungan dan keamanan negara – negara lain di kawasan Asia Selatan.

Kesimpulan

Perlombaan senjata yang terjadi antara India dan Pakistan tidak hanya menimbulkan dampak negatif untuk kedua negara, seperti munculnya rasa ketidakpercayaan satu sama lain sehingga konflik kedua negara tidak bisa terselesaikan, tetapi berdampak juga kepada kawasan Asia Selatan. Dalam bidang keamanan, perlombaan senjata ini akan berdampak pada terciptanya perdamaian negatif dan munculnya ketegangan di negara – negara kawasan Asia Selatan karena sewaktu – waktu perlombaan senjata ini bisa berujung pada memanasnya hubungan India dan Pakistan dan menimbulkan perang antara kedua negara. Selain itu, rasa ketidakpercayaan antara India dan Pakistan juga membuat konflik Kashmir tidak akan menemukan jalan keluarnya karena tidak ada itikad baik kedua negara.

Terlebih lagi, kerjasama antar negara – negara di Asia Selatan juga tidak bisa berjalan dengan baik karena organisasi regional Asia Selatan – SAARC – didominasi oleh kedua negara yang bersengketa ini, sehingga sulit untuk mencapai kesepakatan antar negara anggota.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR