Krisis Nuklir di Tahun 2015, Sebuah Pembahasan – Isu nuklir kembali merambat besar sejak berakhirnya kekuatan bipolar pasca runtuhnya kedigdayaan Uni Soviet yang kemudian mengakhiri Perang Dingin beberapa waktu setelahnya. Jauh demikian waktu berlalu, krisis nuklir kembali terdengar dari kawasan Asia dan Timur Tengah, di mana Korea Utara dan Iran masing-masing memiliki masalah dengan pengayaan kekuatan nuklirnya yang dianggap mengarah ke pembuatan senjata. Begitu pula dengan krisis Krimea yang terjadi antara Ukraina dan Rusia sekarang ini.

Krisis Nuklir

Sejauh ini hanya ada lima negara besar yang berlabel sebagai negara-negara kekuatan senjata nuclear (Nuclear Weapon States/NWS) yakni Cina , Prancis, Rusia (dulunya Uni Soviet), Amerika Serikat, dan Britania Raya atau Inggris. Kelima negara tersebut secara terbuka mengakui kepemilikan senjata nuklir dan secara terbuka pula menandatangani dan meratifikasi nota perjanjian non-proliferasi nuklir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Non-Proliferation Treaty (NPT). Dan kelima negara tersebut adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Kelima negara NWS setuju untuk tidak mengirim, mendorong, atau pun memfasilitasi alat atau pun sumber daya yang berhubungan dengan senjata nuklir. NWS juga setuju untuk tidak menggunakan atau memberikan ancaman terkait penggunaan senjata nuklir.1 Namun apa yang terjadi pada krisis Krimea tidak menunjukkan bahwa kesepakatan di atas benar-benar dapat ditegakkan.

Secara terbuka baru-baru ini Presiden Rusia, Vladimir Putin, menegaskan sudah mempersiapkan senjata nuklirnya dengan status ‘alert stand by‘ dalam tensi yang terjadi antara negaranya dengan Ukraina dalam kasus perebutan wilayah Krimea di Ukraina.2 Setelah selama sekitar 10 hari tidak terlihat di hadapan publik, berita mencengangkan tersebut kemudian mengudara lewat bentuk sebuah rekaman, bukan pernyataan secara live, yang menegaskan bahwa Putin dan Rusia siap menggunakan nuklir jika diperlukan.3

BACA JUGA:  Iran's Political Constellation Through West's Pressure

krisis nuklir

Dalam rangkaian peringatan satu tahun aneksasi Rusia atas Krimea sejak Maret 2014 lalu, Putin juga menuduh bahwa krisis dan sikap Rusia semakin diperparah oleh pengaruh Amerika Serikat. Tuduhan tersebut tak lain adalah karena Amerika Serikat dianggap bertanggung jawab ketika terjadi kudeta terhadap mantan Presiden Ukraina, Viktor Yanukovich, bulan Februari tahun 2014 lalu. AS dianggap bertanggung jawab karena membantu melatih pasukan kaum nasionalis yang lengkap dipersenjatai di Ukraina Barat, Polandia, serta Lituana. Secara jelas Rusia melalui Putin menuduh bahwa kudeta tersebut adalah pengaruh AS. AS juga dituduh berusaha meyakinkan dunia bahwa transformasi tambuk kekuasaan yang terjadi di Ukraina adalah sesuatu yang positif dan sangat didukung oleh sebagian besar negara Eropa, dan AS sendirilah yang merancang serta mendorong terjadinya krisis di Ukraina.4 Dari sini sudah bisa kita simpulkan bahwa dunia sedang berada dalam krisis nuklir dan bukan tidak mungkin bahwa Perang Dingin akan kembali terjadi, atau bahkan memicu terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Semua manusia di dunia ini sudah tahu suasana apokaliptik apa yang akan (kembali) terjadi jika nuklir kembali diledakkan. Jika Rusia menegaskan sudah mempersiapkan senjata nuklirnya untuk krisis ini, dan bagaimana reaksi AS nantinya? Tentu AS tidak akan tinggal diam, begitu pun sekutu terdekatnya baik di Eropa, Asia dan Timur Tengah. AS, Britania Raya, dan Perancis merupakan gabungan tiga poros kuat yang juga merupakan negara NWS. Rusia mungkin akan melibatkan Cina, tetapi perang belum akan terjadi karena masing-masing negara masih akan memikirkan kepentingan politik di balik krisis ini. Besarnya kehancuran dan kerugian yang pasti terjadi tentu akan membuat negara-negara tersebut berpikir beratus-ratus kali untuk terlibat dalam Perang Nuklir yang kemungkinan bisa terjadi.

BACA JUGA:  Ukraina Pelanggar Hak Kekayaan Intelektual Terbesar

AS memang masih dianggap sebagai hegemon di dunia internasional, tetapi bukan berarti ‘macan tidur’ seperti Rusia akan ‘tidur selamanya’ jika merasa terancam. Meski di satu sisi Rusia menjadi pengancam dalam kasus ini, di sisi lain tentu kepentingan Rusia sendiri sedang terancam. Di sisi lain, bukan tidak mungkin kekuatan-kekuatan seperti Iran dan Korea Utara, bahkan Cina, ikut terlibat dalam krisis nuklir ini. Meski Iran tidak secara terbuka mengakui kepemilikan kekuatan nuklir di bidang persenjataan, kasus nuklir Iran masih tetap hangat dalam perdebatan. AS dan sekutunya, terutama Israel, terus-menerus mendorong dunia internasional untuk memojokkan posisi Iran berkat kecurigaan yang timbul ke permukaan akan aktivitas pengayaan nuklir Iran yang mengarah ke penciptaan senjata nuklir. Berbagai sanksi dan pengucilan telah dilakukan terhadap Iran, termasuk embargo.

Dan Israel, yang dicurigai pula sudah memiliki persenjataan nuklir, hingga detik ini pula belum mau menandatangani NPT. Berbeda dengan India dan Pakistan yang secara terbuka mengakui kepemilikan senjata nuklir tetapi belum juga menandangani NPT. Jika dunia mengarah kembali ke Perang Dingin selanjutnya, yang kali ini akan melibatkan kekuatan multipolar di luar AS dan Rusia, maka sekali lagi bukan tidak mungkin dunia akan masuk ke dalam pertarungan massal yang disebut Perang Dunia Ketiga. Kekuatan-kekuatan nuklir akan bergabung satu dengan yang lain, berkoalisi, demi menjatuhkan kekuatan lain. Dan salah satu alat untuk menjatuhkan tersebut bisa saja adalah senjata nuklir.

BACA JUGA:  Perang Menurut Prinsip Machiavelli

Krisis nuklir 2015 ini bukanlah lagi semata-mata aksi heroik atau aksi meningkatkan citra di hadapan publik demi memamerkan satu kekuatan tertentu ke dunia internasional. Krisis nuklir akan berkembang menjadi Perang Nuklir tergantung siapa yang memulai terhadap siapa dan siapa yang merespon terhadap siapa. Jika demikian terjadi, mari bersiap untuk kemungkinan terjadinya kehancuran, tak lepas dari hal ini masihlah wacana ringkas.

  1. Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons.
  2. Ukraine conflict: Putin ‘was ready for nuclear alert’.
  3. Putin says he was ready to put Russian nuclear forces on alert over Crimea crisis.
  4. Krisis Krimea 2014, Rusia Sempat Ancam Tembakkan Nuklir.

TINGGALKAN KOMENTAR