Logosentrisme berasal dari kata logos yang berarti fondasi atau landasan. Logosentrisme sendiri mempunyai arti semua yang memiliki landasan dan fondasi (En Arkhe, En Ho Logos). Logosentrisme terbentuk dari ilmu metafisika yang dipenuhi dengan impian dan nostalgia akan kebenaran dan logos yang adalah hal yang objektif.

Logosentrisme (Wikipedia.org)
Logosentrisme (Wikipedia.org)

Menurut Jaques Derrida logosentrisme adalah sistem metafisik yang membenarkan keadaan logos dan juga kebenaran transendental yang terjadi di dunia fenomenal.

Di dalam logosentrisme terdapat kepaduan dan keberagaman, konsep kepaduan (monisme mutlak : Parminides) menyebutkan Permanence Reigns Supreme yang berarti Whatever is is, whatever is not is not, nothing at all changes.

Keberagaman Pluralisme Mutlak (Herakleitos) menyebutkan bahwa “everything, absolutely everything in constantly changing. Nothing, absolutely nothing ever remained the same.”

Dalam konsep peniruan (mimique) logos memiliki hubungan antara peniru dan yang ditiru, antara lain adalah yang ditiru lebih memiliki keistimewaan dibanding sang peniru, peniru dan yang ditiru memiliki hubungan yang saling berberkaitan satu sama lain dan juga yang berusaha meniru dan menyamai yang ditiru tidak akan berhasil di dalam prakteknya.

Namun terbentuknya logosentrisme membentuk adanya pertentangan terhadap logosentrisme yang disebut anti-logosentrisme yang intinya adalah merekayasa sebuah logos.

Juga terdapat pandangan bahwa sebenarnya konsep yang ada adalah konsep yang tertunda dan kelanjutannya akan terus diperbarui dan disempurnakan.

BACA JUGA:  Rangking Kepentingan Nasional Amerika Serikat

Contohnya konsep realisme yang awalnya dicetus oleh Machiavelli dan berwujud dalam Il Principe, selanjutnya konsep realisme ini diperbarui oleh Thomas Hobbes dengan wujud Leviathan dan Morgenthau dengan Politics Among Nations.

Terdapat juga genealogis yang menyebutkan bahwa kebenaran sejarah tidak hanya satu dan semua berhak menafsirkan sejarah tersebut.

Anti-logosentrisme yang lainnya adalah keberadaan multisiplitas atau jaringan yang saling mengikat dan saling mempengaruhi satu sama lain dan yang terakhir adalah sifat fragmentatif.

Logosentrisme dalam Ilmu Hubungan Internasional

Jika dibawa ke dalam studi Hubungan Internasional, seperti halnya, Logosentrisme dalam Hubungan Internasional pun menggunakan fondasi atau dasar pemikiran.

Adapun fondasi yang digunakan Logosentrisme dalam Ilmu Hubungan Internasional adalah; Sistem Internasional sebagai fondasi, Neo-Realisme sebagai fondasi, dan fenomena-fenomena dalam Hubungan Internasional.

  1. Sistem Internasional sebagai fondasi:

Sistem Internasional yang dipelopori oleh Marton & Romawi menerapkan paham paradigmatik Realisme dengan penambahan teori sistem yang di dalam Hubungan Internasional disebut Sistem Internasional kemudian menghasilkan Neo-Realisme sebagai hasil perpaduan antara Realisme dengan Sistem Internasional.

Adapun bagian-bagian dari Sistem Internasional menurut Marton & Keplan yaitu :

  1. Bipolar Ketat: Aktor lain harus memilih ikut polar yang mana
  2. Bipolar Longgar: Aktor lain bebas memilih ikut polar yang mana
  3. Universal System: Dalam sistem ada satu aktor yang menentukan aktor lain
  4. Hierarchical Sytem: Dalam sitem ada “level pengaruh”, satu aktor mampu tapi dalam sistem mempengaruhi aktor lainnya dalam sistem tersebut
  5. Balance of Power: Terdapat aktor yang kuat dan saling mengibangi/seimbang dalam sistem tersebut adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan masing-masing aktor.
  6. Anarchical System: Tidak ada aktor yang paling kuat tetapi dalam sistem ada aktor yang bisa mempengaruhi aktor lainnya.
BACA JUGA:  Sejarah Singkat Revolusi Perancis

Pola interaksi yang struktur interaksinya terbentuk/dibentuk oleh aktor yang terkuat disebut Sistem Internasional. Sistem Internasional tersebutlah yang menentukan aktor/unit yang hendak berperilaku dan harus sesuai dengan ketentuan Sitem Internasional itu sendiri.

  1. Neo-Realisme sebagai fondasi:

Neo-Realisme pertama kali dipelopori oleh Kenneth Waltz tahun 1970an yang meneleti fenomena Hubungan Internasional yang bercirikan otomatisasi, sustainable, dan dalam batas-batas yang jelas.

Menurut salah satu ilmuwan yang bernama Hanz Moritzen, “His (Waltz) theory is said to be one solely”.

Menurut Waltz, dalam Hubungan Internasional teori hanya ada satu yaitu teori Neo-Realisme. Analisis yang didasarkan pada Neo-Realisme adalah benar, tapi bila tidak didasarkan pada Neo-Realisme adalah salah.

  1. Fenomena dalam Hubungan Internasional:

Ada 3 unsur yang tedapat dalam fenomena-fenomena Hubungan Internasional yaitu :

  1. Neo-Postivisme: Bisa disebut Logosentrisme dimana Hubungan Internasional harus memiliki fondasi atau paradigma yang selalu benar dan bersifat kekal. Hubungan Internasional juga berkembang secara linear, sistematis, dan ditentuka oleh paradigma yang menjadi fondasi.
  2. Critical Theory: Logosentrisme hanya bersifat sementara dimana Hubungan Internasional harus memiliki fondasi teteapi harus sesuai dengan pendapat Thomas Kulm yang menanggap hal tersebut bersifat sementara. Fondasi tidak bersifat universal tetapi tergantung pada School of Though. (Tergantung pada kesepakatan masyarakat keilmuwan.)
  3. Post-Structuralism: Menurut fenomena ini tak perlu ada fondasi agar perkembangan Hubungan Internasional menjadi lebih kreatif dan tidak ditentukan oleh struktur. Perkembanagn Hubungan Internasional boleh kemana saja tanpa harus mengikuti sempitnya alur sesuai struktur yang ditentukan.
BACA JUGA:  Sino-Vietnam Relations

Dalam logsentrisme, terdapat berbagai fondasi yang kemudian diterapkan terhadap perkembangan ilmu Hubungan Internasional sesuai perkembangan bidang keilmuannya.

Hal ini diketahui dari posisi setiap fondasi dalam perkembangan ilmu Hubungan Internasional itu sendiri.

Setiap perkembangan ilmu ada fondasi yang baru yang kemudian memperjelas bagaimana posisi Logosentrisme dalam studi Hubungan Internasional itu sendiri.

Diambil dari studi Metodologi Ilmu Hubungan Internasional, Kelas A, Unpar.

Ditulis oleh:

Herry, Walter, Andreas.

SHARE
Artikel SebelumnyaFantasi dan Realita di Afghanistan
Artikel SelanjutnyaGreenpeace & Teori Globalist View
Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

TINGGALKAN KOMENTAR