Fantasi dan Realita di Afghanistan – Dalam dunia ini fantasi dan realita sering kali tidak berjalan searah. Banyak orang yang memiliki fantasi yang indah tetapi sering kali hal itu tidak sejalan dengan realita yang ada.

Seperti halnya yang dilakukan Amerika di Afganistan, Amerika telah lama memperjuangkan untuk terjadinya modernisasi di Afganistan, karena Amerika berpendapat ketika Afganistan mengalami modernisasi dan pembangunan maka permasalahan nasional yang selama ini terjadi di Afganistan akan terselesaikan.

Hal ini di ungkapkan oleh Newt Gingrich dalam pidatonya pada tahun 2010  di American Enterprise Institute, Gingrich mengungkapkan bahwa kegagalan Amerika di Afganistan adalah karena kurangnya pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, dan kurangnya sarana telekomunikasi yang di berikan kepada warga Afganistan.

Tetapi semua itu hanyalah fantasi yang di pikirkan dan dibayangkan oleh Amerika, kenapa? Karena Amerika sendiri menemukan di banyak tempat di dunia beberapa decade terakhir bahwa :

  1. Sangat sulit untuk memodernisasikan suatu Negara dalam jangka waktu beberapa tahun
  2. Bahkan bila mungkin, karakter fundamental dari komunitas yang ada, etnik, agama dan pendekatan-pendekatan nasional sertia geopolitik akan tetap bertahan.
BACA JUGA:  Sino-Vietnam Relations

Kedua hal inilah yang terjadi di Afganistan. Yang pertama, Afganistan mengalami beberapa masalah internal yang sulit untuk di ubah bahkan dengan hadirnya modernisasi, yaitu permasalahan kestabilan pemerintahan dan lemahnya kekuatan ekonomi.

Kedua permasalahan ini menghalangi untuk terciptanya suatu kondisi yang kondusif demi proses pembangunan nasional, oleh karena itu bahkan dengan hadirnya modernisasi, fasilitas komunikasi, dan maraknya infrastruktur yang dibangun, hal-hal ini akan sulit untuk mengubah kondisi internal yang terjadi di Afganistan ini.

Permasalahan yang Kedua adalah tetap bertahannya karakter fundamental, etnik dan agama dalam komunitas yang ada, hal ini tercermin dari kehadiran Taliban di Afganistan. Taliban merupakan gerakan fundamentalis yang menyulitkan untuk terciptanya modernisasi di Afganistan, karena gerakan Taliban ini menghalangi pemerintahan Afganistan untuk berjalan dengan efektif dan sah. Selain itu gerakan Taliban ini didukung oleh pemerintahan Pakistan yang membuat gerakan Taliban ini semakin sulit untuk di basmi, karena tidak ada gerakan gerilya yang kuat dan di dukung dengan pasukan militer yang kuat seperti pasukan Pakistan dapat di basmi.

BACA JUGA:  Perwakilan Diplomatik Bilateral dan Multilateral

Tetapi kembali lagi, bila terjadi suatu hal yang ajaib dimana Taliban bisa dimusnahkan, dan kelemahan ekonomi serta pemerintahan di Afganistan teratasi, belum tentu Afganistan akan menjadi Negara yang lebih moderat seperti yang diharapkan oleh Amerika. Kenapa? Sebagaimana yang terjadi di Irak saat-saat ini, dimana ketika Amerika berhasil menyelesaikan Rezim Saddam Hussein, dan bermimpi untuk menjadikan Irak sebagai Negara model yang mencerminkan Pro-western democracy, pada kenyataannya hal tersebut tidak terjadi karena seperti yang dikatakan sebelumnya walaupun terjadi modernisasi tetapi karakter fundamental, etnik dan agama yang selama ini telah diwariskan selama turun-menurun oleh leluhur mereka  akan tetap bertahan.

Hal ini menunjukan bahwa pengaruh Islam di kawasan Timur-Tengah begitu kuat, dalam artian bahwa Islam di kawasan Timur-Tengah telah menjadi suatu variabel yang independent, dimana Islam tidak akan mudah untuk di ubah walaupun keadaan di sekitarnya mengalami perubahan, melainkan akan menimbulkan suatu gerakan yang bahkan lebih radikal lagi dari gerakan-gerakan sebelumnya.

Oleh karena itu selama Amerika masih menganggap pengaruh Islam sebagai variabel dependent dan dapat diubah dengan mudah oleh modernisasi, maka Amerika tidak akan bisa untuk menciptakan suatu perubahan besar di Afganistan, dengan kata lain bila Amerika hanya melihat kepada fantasinya belaka tanpa mencoba berpaling kepada kenyataan dan ralita yang ada, maka apa yang selama ini dilakukan oleh Amerika hanya akan menjadi suatu hal yang sia-sia dan akan selalu memiliki akhir yang sama.

BACA JUGA:  ASEAN & Perbedaan Bali Concord II dan III

 

Ditulis oleh:

David, Jenni, Astrid, M. Rahadiyan, Walter..

SHARE
Artikel SelanjutnyaLogosentrisme dalam Metodologi Ilmu Hubungan Internasional
Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

TINGGALKAN KOMENTAR