Wujud Modernisasi Militer Cina – Wujud modernisasi militer Cina ditunjukkan dengan pembelian kapal induk bekas dari Uni Soviet yang terjadi di beberapa puluh tahun silam. Negara Republik Komunis ini menjadi kekuatan baru di Asia dengan modernisasi militernya.

PENDAHULUAN

China, salah satu negara di Asia yang saat ini menjadi sorotan dunia internasional dengan berbagai terobosan baru dalam berbagai bidang. Resmi berdiri menjadi China-RRC (Republik Rakyat China) pada tanggal 1 Oktober 1949 setelah Partai Komunis China (PKC) pimpinan Mao Zedong yang berhaluan komunis memenangkan pengaruh, setelah melakukan pertarungan politik sengit dengan Partai Kuomintang pimpinan Sun Yat Sen dan Ciang Kai Sek yang berhaluan nasionalis.[1]

Dengan kemajuan dalam berbagai bidang ini, China hadir sebagai salah satu kekuatan baru negara yang berpengaruh di dunia. Kemajuan ini tentunya berdampak langsung kepada Amerika Serikat yang sudah mendominasi dunia selama puluhan tahun. Tidak sedikit negara-negara di dunia mulai memperhitungkan negara ini, dan sekaligus juga mulai mempertanyakan dominasi Amerika Serikat, apakah dapat terus bertahan? Saat ini banyak pengamat yang percaya bahwa era Amerika Serikat akan segera berakhir.[2]

Beberapa waktu lalu mata dunia kembali tertuju kepada China yang meluncurkan sebuah kapal, namun bukan sebatas kapal biasa, tetapi sebuah kapal induk yang umum dikenal sebagai aircraft carrier. Hal inilah yang membuat Amerika Serikat menjadi semakin cemas, mengingat hal ini bisa menurunkan pengaruh terhadap aliansi-aliansinya di wilayah Asia. Selain itu Amerika Serikat dibawah pimpinan presiden Barrack Obama juga telah menurunkan anggaran militer selama beberapa tahun terakhir juga turut menjadi perhatian tersendiri.[3]

Dengan adanya fenomena ini, analytical question yang coba diangkat sekaligus dibahas adalah “Apakah Tujuan China yang Sesungguhnya dengan Pembelian Kapal Induk Bekas Uni Sovyet tersebut?”. Untuk menjelaskan fenomena diatas maka akan digunakan sebuah teori yaitu realisme. Dijelaskan secara deskriptif, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi atas suatu fenomena yang terjadi dengan mendeskripsikan hal-hal yang terkandung didalamnya dengan variabel-variabel. Metode dalam pengumpulan data akan dilakukan secara kualitatif mengingat keterbatasan periode waktu penulisan. Data-data yang ditampilkan berasal dari berbagai buku, jurnal, artikel, dan juga sumber dari media elektronik seperti internet.[4]

PENJELASAN TEORI

Paham realisme, negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional yang bersifat rasional serta selalu memperhitungkan segala tindakannya berdasarkan pada cost and benefit.[5] Banyak yang meyakini bahwa awal mula teori realisme ini dikemukakan oleh Hans Morgenthau dan menjadi pusat kajian pada tahun 1990an:

“It is sufficient to state that the struggle for power is universal in time and space and is an undeniable fact of experience. It cannot be denied that throughout historic time, regard-less of social, economic, and political conditions, states have met each other in contests of power”.[6]

Bagi banyak penganut realisme, power telah tertanam secara alami pada setiap manusia. Kapasitas power tersebut akan ditingkatkan karena manusia menginginkan sesuatu yang dibutuhkan. Morgenthau berpendapat bahwa manusia mengendalikan kekuasaan sebagai fakta yang mendasar lebih daripada saat perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan terjadi. [7]

Dalam praktek politik luar negeri suatu negara, paham realisme ini dapat dicirikan dengan beberapa hal, misalnya sifat politik luar negeri yang nasionalis, melibatkan pakta pertahanan/aliansi, strategi penggetar/deterrence, dan juga konsep pengimbangan kekuatan yang umum dikenal sebagai balance of power.[8] Kenneth Waltz mendefinisikan konsep balance of power sebagai satu-satunya hal yang dapat menjamin keamanan dan perdamaian dunia.[9]

Teori realisme ini dapat diaplikasikan untuk menjelaskan era Perang dingin yang ketika itu hanya terdiri atas 2 kekuatan pusat (bipolar) dunia, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, 2 negara adidaya pemenang Perang Dunia 2 pada tahun 1945. Dengan adanya persaingan antara kedua negara ini, masing-masing membentuk aliansi dan selalu saja terlibat didalam setiap kesempatan. Segala langkah atau tindakan yang diambil salah satu dari negara ini, dipersepsikan sebagai ancaman yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keberlangsungan hidup atau national security dari pihak yang lainnya.[10]

BACA JUGA:  4 Tips Mudah Mengembangkan Blog

Untuk itu, segala upaya dilakukan untuk “menakuti” atau “melemahkan” pihak lawan, termasuk meningkatkan kapabilitas power:

“Since the desire to attain a maximum of power is universal, all nations must always be afraid that their own miscalculations and the power increases of other nations might add up to an inferiority for themselves which they must at all cost try to avoid”.[11]

Karena realisme yang berfokus pada security dan power tersebut, pengadaan militer dengan skala massive merupakan satu-satunya jalan untuk menjamin sekaligus meningkatkan posisi tawar dihadapan negara lain. Hal ini terlihat selama era Perang Dingin yang mengajarkan kepada kaum idealis khususnya, mengapa politik internasional tidak memiliki cukup niat yang baik. Disaat inilah realisme menjelaskan bahwa tindakan yang ekstrim disertai militer yang tidak terbatas jumlahnya amatlah diperlukan.[12]

Dengan demikian tidak sedikit jenis-jenis politik luar negeri yang dikeluarkan oleh negara yang dapat dijelaskan melalui cara pandang realisme ini. Beberapa yang terkenal seperti “containment theory”, “deterrence theory”, “domino theory”, keseluruhan dari doktrin ini digunakan untuk membantu negara dalam memenangkan percaturan politik dan juga menjamin agar keamanan nasional suatu negara dapat terjamin, sekalipun itu berarti membuka peperangan dengan negara lain.

ANALISIS/PEMBAHASAN

Berangkat dari teori realisme, unit analysis (UA) dan juga unit eksplanansi (UE) yang akan dipakai dalam menjawab analytical question (AQ) dari fenomena yang sudah lebih dulu dipaparkan pada bagian introduction/pengantar diatas adalah negara, yaitu China.

China yang dalam beberapa kurun waktu terakhir memang mengalami kemajuan di berbagai bidang seperti ekonomi dan juga industri. Terbukti dengan semakin cepatnya pertumbuhan ekonomi China melebihi Amerika Serikat dan mulai banyaknya perusahaan manufaktur asal Amerika Serikat yang mulai memindahkan dan memulai bisnis mereka di negara tirai bambu itu Keadaan ini berbeda dengan puluhan tahun yang lalu dimana negara tersebut masih menggunakan sistem ekonomi sosialis sebelum akhirnya diliberalkan.[13]

Deng Xiaoping adalah orang yang berjasa dalam merevolusi ekonomi China, mengembalikan stabilitas dan juga pertumbuhan yang positif bagi negara itu. Saat ini negara rising star ini sudah memasuki wilayah Asia-Pasifik untuk menanamkan pengaruhnya yang dimana beberapa negara disekitar kawasan itu adalah aliansi Amerika Serikat.[14]

Dengan kondisi yang demikian, China semakin percaya diri di percaturan politik dunia internasional. Sedikit demi sedikit China memainkan peranannya dan ikut terlibat di dalam berbagai forum berskala regional dan internasional, hingga menjadi salah satu aktor yang mendominasi politik luar negeri selain daripada Amerika Serikat sendiri. Jumlah penduduk yang mencapai 1.34 miliar jiwa pada akhir 2011 ini menjadi salah satu modal yang digunakan untuk membangun kekuatan ekonomi dengan basis industri di negara itu.[15]

Laju pertumbuhan ekonomi yang cepat itu menghasilkan devisa yang penting bagi pembangunan di China, pembangunan itu meliputi berbagai aspek tidak terkecuali militer. September 2012 yang lalu, China baru saja meresmikan sebuah unit kapal baru sebagai wujud modernisasi dari aspek militernya. Tidak tanggung-tanggung kapal ini adalah kapal dan biasa disebut sebagai aircraft carrier, karena kapal ini mampu mengangkut puluhan unit jet-jet tempur yang dapat diterbangkan dan mendarat diatasnya.[16] Kapal ini dibeli dalam keadaan bekas karena tidak terpakai oleh pemerintah Ukraina sebagai pemegang hak waris dari Uni Soviet yang runtuh pasca Perang Dingin.[17]

Kapal Induk Varyag (guardian.co.uk)

Awalnya kapal tersebut bernama Varyag, dan tujuan awal pembeliannya adalah untuk membuat casino terapung yang oleh China akan digunakan sebagai komoditi bisnis. Dengan suatu sebab, China akhirnya tertarik untuk menyelesaikan seluruh bagian yang belum tuntas, termasuk juga navigasi dan sistem pelayaran kapal itu agar dapat digunakan untuk kepentingan militer pada awal tahun 2000. Setelah rampung nama kapal itu kemudian diganti menjadi Liaoning, dan saat ini resmi menggunakan nama Shi Lang dalam menjalankan tugasnya di laut.[18] Nama Shi Lang sendiri diambil dari nama salah seorang admiral dari kapal perang Manchu yang berhasil menaklukkan Taiwan pada 1681.[19]

BACA JUGA:  Kebijakan Soekarno di Masa Perang Dingin

Lantas, apa sesungguhnya tujuan China dalam pembelian kapal induk bekas Uni Soviet itu?

Meningkatkan Kapabilitas Militer: Dari sudut pandang realisme, dapat dijelaskan bahwa sekalipun China maju secara ekonomi bahkan melebihi Amerika Serikat sekalipun, negara ini juga masih paranoid, dan merasa bahwa national security-nya belumlah memadai. Padahal jika dilihat dari jumlah tentara yang dimiliki oleh China saat ini mencapai 2.3 juta personil aktif dengan 800 ribu tentara cadangan, ditambah 1.5 juta paramiliter, dengan total 4.585 juta personil. Bila dibandingkan dengan Amerika Serikat saja, jumlah ini masih lebih banyak. Amerika Serikat memiliki 1.468 juta personil aktif, dengan 1.458 juta tentara cadangan, ditambah 11 ribu paramiliter, dengan total 2.937 juta personil.[20]

Dengan jumlah personil militer yang demikian besar, tentunya belum cukup jika tidak didukung dengan peralatan tempur yang memadai. Hal inilah yang disadari oleh China sehingga kemudian membeli kapal induk bekas Uni Soviet tersebut. Selain untuk memperkuat armada laut, pembelian ini juga dapat digunakan untuk membantu negara ini dalam merakit prototype kapal induk di masa depan.[21]

Menjadi Pengimbang Kekuataan/Dominasi Amerika Serikat: Dengan kepemilikan kapal itu, China kemudian dapat masuk kedalam kelompok negara pemilik kapal induk yang mayoritas didalamnya adalah negara-negara aliansi Amerika Serikat (kecuali Rusia), adalah kelompok dari beberapa negara yang maju secara ekonomi dan juga militer.[22] Keuntungan yang didapat dengan kepemilikan kapal induk ini adalah efisiensi anggaran militer yang mana kapal itu dapat berpindah-pindah dan beroperasi di laut internasional, sehingga tidak membutuhkan izin terhadap negara penguasa laut teritori jika ingin melakukan patroli dengan menggunakan jet tempur.[23]

Mengamankan Akses ke Laut China Selatan: Saat ini China memang sedang terlibat dalam sengketa konflik laut China Selatan yang melibatkan beberapa negara seperti Vietnam, Indonesia, Filiphina, Singapura. Laut China Selatan memang dinilai strategis karena merupakan jalur perdagangan yang ramai dilewati, sehingga negara yang dapat menguasai kawasan ini, mempunyai keuntungan dari segi ekonomis dan juga meningkatkan posisi tawar.[24] Pembelian kapal induk ini berfungsi sebagai pemberi efek penggetar/deterrence kepada negara-negara disekitar Laut China Selatan.

Mencoba untuk Menanamkan Pengaruh Masuk ke Wilayah Pasifik: China mencoba menanamkan pengaruhnya untuk masuk ke wilayah Pasifik melalui Indonesia dengan hubungan dagang yang intensif dan berkelanjutan sehingga menarik negara-negara kawasan Pasifik untuk membuka hubungan dengan China. Hal ini juga didukung adanya pengakuan dari China bahwa Indonesia adalah aktor yang memiliki peranan penting dikawasan. [25]

KESIMPULAN

Dengan analisis menggunakan teori realisme, pembelian kapal induk Varyag oleh China sebagai salah satu aktor pelaku hubungan internasional adalah “rasional” adanya. Karena dari pembelian 1 unit kapal induk tersebut, China dapat memperoleh beberapa keuntungan jangka panjang untuk mengukuhkan dominasinya di wilayah Asia dan Pasifik. Selain daripada kejenuhan daripada dominasi Amerika Serikat di dunia, kehadiran China sebagai salah satu pengimbang kekuatan justru membawa nuansa baru pada percaturan politik internasional yang biasa hanya dikuasai oleh Amerika Serikat.

Selain itu, hasil analisis dengan menggunakan teori realisme ini juga semakin menguatkan eksistensi daripada penganut teori realisme sendiri, dimana sekalipun suatu negara sudah maju di sektor ekonomi dan politik, tetap saja akan bertindak “paranoid” dan merasa bahwa national security-nya belumlah dirasa aman jika tidak didukung oleh teknologi dan armada militer yang memadai.

 

Daftar Pustaka:

Sumber buku:

Banyu Perwita, Anak Agung, Yanyan Mochamad Yani, (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Griffiths, Martin., (1992). Realism, Idealism, & International Politics, a reinterpretation. London: Routledge.

Kegley, Jr., Charles W., (1995). Controversies in International Relations Theory, Realism and The Neoliberal Challenge. New York: St Martin’s.

Sullivan, Michael P., (2007). Theories of International Relations, Transition vs. Persistence. New York: Palgrave.

Sumber website:

10 Negara dengan Kekuatan Militer Terbesar di Dunia:

http://top10.web.id/geografi/10-negara-dengan-kekuatan-militer-terbesar-di-dunia.

Challenge in The Pacific:

BACA JUGA:  ASEAN & Perbedaan Bali Concord II dan III

http://www.forbes.com/forbes/2011/0808/opinions-lee-kuan-yew-current-events-challenge-in-pacific.html.

Hubungan Ekonomi Indonesia – China:

http://www.dw.de/hubungan-ekonomi-indonesia-cina/a-15035359.

Konflik Laut Cina Selatan dan Posisi Strategis Indonesia:

http://analisismiliter.com/artikel/part/36/Konflik_Laut_Cina_Selatan_dan_Posisi_Strategis_Indonesia.

Luncurkan Kapal Induk, Tiongkok Menuju Status Superpower:

http://www.jpnn.com/read/2011/08/21/101258/Luncurkan-Kapal-Induk,-Tiongkok-Menuju-Status-Superpower-.

Penduduk Tua China Semakin Meningkat:

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/09/120920_chinaaging.shtml.

 

Profil Negara Republik China (RRC):

http://www.scribd.com/doc/77002285/4/Profil-Negara-Republik-China-RRC.

U.S Companies Betting Big in China:

http://money.cnn.com/galleries/2012/news/economy/1204/gallery.us-companies-in-china/.

Varyag Could Set Sail Before The End of This Year: NSB:

www.wantchinatimes.com/news-subclass-cnt.aspx?cid=1101&MainCatID=11&id=20110426000022">http://www.wantchinatimes.com/news-subclass-cnt.aspx?cid=1101&MainCatID=11&id=20110426000022.

Why The Carriers:

www.navy.mil/navydata/ships/carriers/cv-why.asp">http://www.navy.mil/navydata/ships/carriers/cv-why.asp.

World Wide Aircraft Carries:

http://www.globalsecurity.org/military/world/carriers.htm.

Sumber tambahan:

Capt. Zhang Zhaozhong – Chinese navy’s top aircraft carrier expert Purchasing Seems to be The Only Way for Poor Nations to Develop Aircraft Carriers, VaryagWorld, diakses di: http://www.varyagworld.com/didsay.php, pada 30 November 2012.

G. John Ikenberry, The Rise of China and Future of The West, Foreign Affairs.com, Januari 2008, diakses di: http://www.foreignaffairs.com/articles/63042/g-john-ikenberry/the-rise-of-china-and-the-future-of-the-west, pada 29 November 2012.

Gregory J. Moore. Research Methods for International Relations Studies: Assembling an Effective Toolkit (Presented at the 48th Annual International Studies Association Conference Chicago, Illionis, February 28.

 


[1] Profil Negara Republik China (RRC), scribd.com, diakses di: http://www.scribd.com/doc/77002285/4/Profil-Negara-Republik-China-RRC, pada 27 November 2012.

[2] G. John Ikenberry, The Rise of China and Future of The West, Foreign Affairs.com, Januari 2008, diakses di: http://www.foreignaffairs.com/articles/63042/g-john-ikenberry/the-rise-of-china-and-the-future-of-the-west, pada 29 November 2012.

[3] Luncurkan Kapal Induk, Tiongkok Menuju Status Superpower, jpnn.com, 21 Agustus 2011, diakses di: http://www.jpnn.com/read/2011/08/21/101258/Luncurkan-Kapal-Induk,-Tiongkok-Menuju-Status-Superpower-, pada 29 November 2012.

[4] Gregory J. Moore. Research Methods for International Relations Studies: Assembling an Effective Toolkit (Presented at the 48th Annual International Studies Association Conference Chicago, Illionis, February 28 – March 3, 2007). Page 4-5.

[5] Banyu Perwita, Anak Agung, Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 25.

[6] Sullivan, Michael P. Theories of International Relations, Transition vs. Persistence, (New York: Palgrave, 2007), hal. 114.

[7] Kegley, Jr., Charles W. Controversies in International Relations Theory, Realism and The Neoliberal Challenge, (New York: St Martin’s, 1995), hal. 78.

[8] Banyu Perwita, Anak Agung, Yanyan Mochamad Yani, op. cit., hal. 25.

[9] Sullivan, Michael P. op. cit., hal. 116.

[10] Ibid., hal 118.

[11] Kegley, Jr., Charles W. op. cit., hal. 79.

[12] Griffiths, Martin,. Realism, Idealism, & International Politics, a reinterpretation, (London: Routledge. 1992), hal. 71.

[13] U.S Companies Betting Big in China, CNN Money, 26 April 2012, diakses di: http://money.cnn.com/galleries/2012/news/economy/1204/gallery.us-companies-in-china/, pada 29 November 2012.

[14] Challenge in The Pacific, Forbes.com, diakses di: http://www.forbes.com/forbes/2011/0808/opinions-lee-kuan-yew-current-events-challenge-in-pacific.html, pada 29 November 2012.

[15] Penduduk Tua China Semakin Meningkat, BBC Indonesia, 20 September 2012, diakses di: http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/09/120920_chinaaging.shtml, pada 27 November 2012.

[16] World Wide Aircraft Carries, Global Security.org, diakses di: http://www.globalsecurity.org/military/world/carriers.htm, pada 30 November 2012.

[17] Varyag Could Set Sail Before The End of This Year: NSB, Want China Times, 26 April 2011, diakses di: www.wantchinatimes.com/news-subclass-cnt.aspx?cid=1101&MainCatID=11&id=20110426000022">http://www.wantchinatimes.com/news-subclass-cnt.aspx?cid=1101&MainCatID=11&id=20110426000022, pada 28 November 2012.

[18] Op. Cit., jpnn.com.

[19] Ibid.

[20] 10 Negara dengan Kekuatan Militer Terbesar di Dunia, Top10.web.id, 31 Desember 2011, diakses di: http://top10.web.id/geografi/10-negara-dengan-kekuatan-militer-terbesar-di-dunia, pada 29 November 2012.

[21] Capt. Zhang Zhaozhong – Chinese navy’s top aircraft carrier expert Purchasing Seems to be The Only Way for Poor Nations to Develop Aircraft Carriers, VaryagWorld, diakses di: http://www.varyagworld.com/didsay.php, pada 30 November 2012.

[22] Op. Cit., Global Security.org.

[23] Why The Carriers?, Americas Navy, diakses di: www.navy.mil/navydata/ships/carriers/cv-why.asp">http://www.navy.mil/navydata/ships/carriers/cv-why.asp, pada 29 November 2012.

[24] Konflik Laut Cina Selatan dan Posisi Strategis Indonesia, 9 Agustus 2012, analisismiliter.com, diakses di: http://analisismiliter.com/artikel/part/36/Konflik_Laut_Cina_Selatan_dan_Posisi_Strategis_Indonesia, pada 29 November 2012.

[25] Hubungan Ekonomi Indonesia – China, diakses di: http://www.dw.de/hubungan-ekonomi-indonesia-cina/a-15035359, pada 30 November 2012.

 

Artikel ini disumbangkan oleh Romeo Yan Samantha sebagai Penulis Tamu.

SHARE
Artikel SebelumnyaCara Menghindari Copy-Paste Blog Tanpa Sumber
Artikel SelanjutnyaJadwal Update Google Pagerank 2013
Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

TINGGALKAN KOMENTAR