Teori Kepentingan Nasional dalam Kasus Laut Cina Selatan – 

Negara di dalam pemerintahannya dan dalam membangun atau mengembangkan negaranya, baik itu internal maupun eksternal, hendaklah mempunyai suatu strategi dan taktik dalam mencapai visi dan misi suatu negara ke depan. Suatu negara mempunyai alasan mengapa negara tertentu harus atau perlu melakukan hubungan luar negeri. Umumnya, negara melakukan hubungan luar negeri karena itu memang takdir dan kewajiban yang sudah ada dan diterima oleh suatu bangsa untuk mengambil peran tertentu di dunia (sense of place and purpose).

Alasan lainnya adalah karena ini merupakan suatu kepentingan, kepentingan nasional (national interest) yang melebihi dari kepentingan apapun. Berbicara mengenai politik luar negeri, dalam arti luas, politik luar negeri adalah pola perilaku yang digunakan oleh suatu Negara dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Politik luar negeri dapat juga digunakan sebagai sarana penghubung antara negara satu dengan negara yang lain. Politik luar negeri berhubungan dengan proses pembuatan keputusan untuk mengikuti pilihan jalan tertentu. Politik luar negeri tidak hanya melihat masalah politik di dalam batas negara saja, tetapi, juga membahas masalah atau isu-isu yang terjadi di luar batas negara, yang ada hubungannya dengan suatu negara tersebut. Dalam definisinya secara tradisional, politik luar negeri atau dalam bahasa inggris disebut dengan foreign policy adalah alat suatu negara yang dipergunakan juga untuk memenuhi kepentingan nasional. Kepentingan nasional berarti berdasarkan kepentingan warga negara. Tujuan tersebut memuat gambaran mengenai keadaan negara dimasa mendatang serta kondisi masa depan yang diinginkan. Tentunya setiap warga negara mengharapkan masa depan yang damai, kedamaian antar setiap negara di dunia.[1]

Untuk mendefinisikan kepentingan nasional suatu negara, beberapa kriteria dapat digunakan seperti, 1) Kriteria ekonomi: Berbagai kebijakan ekonomi untuk meningkatkan posisi ekonomi negara dianggap sebagai kepentingan nasional. Misalnya, memperbaiki neraca perdagangan, memperkuat basis industry, menjamin akses terhadap minyak, gas, dan energi lain; 2) Kriteria ideologi: Mempengaruhi negara untuk mengadopsi cara-cara tertentu untuk melihat dunia dan kepentingan nasionalnya; 3) Akumulasi power: Melalui peningkatan kekuatan ekonomi, promosi ideologi, meningkatkan kapabilitas militer; 4) Keamanan militer: Pada intinya, kepentingan suatu negara ada upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup (survival) bangsa dan keamanan nasional.[2]

Saat ini yang sedang menjadi sorotan dunia adalah negara Cina yang sedang berkembang dengan pesat sekali khususnya di bidang ekonomi. Dalam kaitan dengan konfigurasi kekuatan di kawasan, faktor Cina menjadi pusat perhatian. Bangkitnya Cina sebagai kekuatan utama di Asia Pasifik adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Diperkirakan bahwa Cina akan menjadi kekuatan di dunia yang mampu menyaingi AS, paling tidak di kawasan Asia Tenggara dan Timur. Bangkitnya Cina akan menghadirkan tantangan dan sekaligus kesempatan. Pembangunan kekuatan militernya masih terus dilakukan dan kehadiran mereka di Laut Cina Selatan makin meningkat.[3] Laut Cina Selatan sekarang ini banyak dijadikan lahan sengketa oleh banyak negara. Alasannya beragam, ada yang karena batas wilayah, faktor sejarah, perbatasan, atau sumber daya alam. Salah satu negara yang mempersengketakan wilayah ini adalah Cina dengan Filipina.

BACA JUGA:  Rangking Kepentingan Nasional Amerika Serikat

Dikabarkan oleh BBC Indonesia dalam artikelnya yang berjudul ‘Filipina Lelang Laut Cina Selatan’ pada tanggal 31 Juli 2012 bahwa pemerintah Filipina akan melelang tiga wilayah di Laut Cina Selatan untuk eksplorasi minyak dan gas yang juga diklaim oleh Cina. Sejumlah perusahaan lokal dan asing memenuhi standarisasi untuk mengajukan penawaran, termasuk perusahaan energi besar asal Prancis Total, perusahaan AS Exxon dan Kerajaan Belanda Shell. Filipina sangat ingin mengurangi ketergantungan impor energi. Bagaimanapun, perairan yang diklaim oleh sejumlah negara itu, memiliki sumber energi yang besar. Blok yang akan dilelang berada di dekat Provinsi Palawan province, dekat Malampaya dan Sampaguita yang mengandung gas alam. Wilayah ini dekat dengan Reed Bank, yang juga diklaim oleh Cina. Cina mengklaim wilayah Laut Cina Selatan, yang juga diklaim oleh Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei dan Malaysia. Diperkirakan wilayah laut Cina Selatan yang menjadi sengketa itu mengandung minyak dan gas yang besar. Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara sejumlah negara menajam, menyusul peningkatan aktivitas maritim Cina di wilayah itu. Hubungan antara Cina dan Filipina menurun menyusul sengketa wilayah di Scarborough Shoal.[4] Filipina dan Vietnam menuduh China bersikap makin agresif menyangkut klaimnya dalam tahun-tahun belakangan ini. Sementara itu AS menengaskan adalah satu “kepentingan nasional” untuk mempertahankan jalur pelayaran itu bebas dan terbuka.[5]

Teori yang dipakai dalam kasus/isu Laut Cina Selatan ini adalah teori kepentingan nasional dari Charles O. Lerche yang menyebutkan bahwa tindakan suatu negara yang diwujudkan dalam politik luar negerinya selalu bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu yang berasal dari penerapan kepentingan nasional di mana politik luar negeri  tersebut  dibuat.  Lebih  lanjut  Norman  J.  Padelford  menegaskan  bahwa kepentingan  nasional  suatu  negara  harus  menjadi  vital  terhadap  national independence, way of life, territorial security, and economic welfare. Konsep kepentingan nasional sangat penting untuk menjelaskan dan memahami perilaku internasional serta merupakan dasar untuk menjelaskan perilaku luar negeri suatu negara. Para penganut realist menyamakan kepentingan nasional sebagai upaya negara untuk mengejar power dimana power adalah segala sesuatu yang dapat mengembangkan dan memelihara kontrol atas suatu negara terhadap negara lain. Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dalam isu Laut Cina Selatan antara Filipina dan Cina dapat melalui teknik paksaan, atau kerjasama (cooperation). karena itu, kekuasaan nasional dan kepentingan nasional dianggap sebagai sarana dan sekaligus tujuan dari tindakan suatu negara untuk bertahan hidup dalam politik internasional.

BACA JUGA:  Perang Irak-Iran di Timur Tengah dalam Hubungan Internasional

Menurut Hans J.Morgenthau didalam “The Concept of Interest defined in Terms of power“, Konsep Kepentingan Nasional (Interest) yang didefiniskan dalam istilah “power” menurut Morgenthau berada diantara nalar, akal atau “reason” yang berusaha untuk memahami politik internasional dengan fakta-fakta yang harus dimengerti dan dipahami. Dengan kata lain, power merupakan instrumen penting untuk mencapai kepentingan nasional.[6] Konsep kepentingan nasional juga mempunyai indikasi dimana negara atau state berperan sebagai aktor utama di dalam formulasi politik yang merdeka berdaulat. Selanjutnya didalam mekanisme interaksinya masing-masing negara atau aktor berupaya untuk mengejar kepentingan nasionalnya. Kepentingan inilah yang Morgenthau berpendapat bahwa strategi diplomasi berdasarkan kepada kepentingan nasional. Kepentingan nasional tersebut digunakan untuk mengejar “power” yang bisa digunakan untuk membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu negara atas negara lain. Menurut Morgenthau, dengan memiliki power maka suatu negara dapat mengadili negara lain seperti mengadili negara sendiri dan kemudian dapat meningkatkan kepentingan negara yang memiliki power. Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat melalui teknik paksaan, atau kerjasama (cooperation). karena itu, kekuasaan nasional dan kepentingan nasional dianggap sebagai sarana dan sekaligus tujuan dari tindakan suatu negara untuk bertahan hidup dalam politik internasional. Konsep kepentingan nasional juga mempunyai indikasi dimana negara atau state berperan sebagai aktor utama di dalam formulasi politik yang merdeka berdaulat. Selanjutnya didalam mekanisme interaksinya masing-masing negara atau aktor berupaya untuk mengejar kepentingan nasionalnya. Kepentingan inilah yang akhirnya diformulasikan ke dalam konsep ‘power’ kepentingan ‘interest’ didefinisikan ke alam terminologi power.[7]

Berdasarkan pemikiran saya, kepentingan nasional itu sangat penting adanya bagi suatu negara. Kepentingan nasional bagaikan nyawa dari suatu negara. Kehidupan tidak akan berjalan di dalam suatu negara jika di dalamnya tidak ada kepentingan nasional. Di dalam kasus ini terlihat upaya yang keras dari Cina dalam mempertahankan wilayahnya di kawasan Laut CIna Selatan. Bahkan jika diteliti lagi lebih jauh, sejak bubarnya Uni Sovyet pada tahun 1991, Cina berusaha untuk membentuk sistem internasional yang bersifat multipolar untuk menghadapi pengaruh militer dan ekonomi AS sebagai satu-satunya negara adidaya. Ini bisa dilihat sebagai upaya Cina untuk membentuk hubungan kemitraan strategis dengan Rusia dalam untuk menghadapi kebijakan strategis AS misalnya perluasan NATO, National Missile Defence, dan isu Taiwan. Cina juga telah memperluas pengaruh strategisnya di kawasan Asia Tengah dengan membentuk apa yang disebut sebagai the Shanghai Cooperation Organization. Tetapi, dalam waktu yang sama Cina mempunyai kepentingan stabilitas dan ekonomi untuk kepentingan nasional mereka. Dengan adanya pembangunan ekonomi dan hubungan dagang yang makin intensif dengan negara-negara lain, Cina justru membutuhkan lingkungan yang aman dan bersahabat dengan negara lain.[8] Kemudian Filipina hendaknya tindak perlu takut untuk melakukan suatu tindakan terhadap Laut Cina Selatan sejauh itu tidak mengancam keamanan negara lain dan berhubung belum ada hukum yang jelas mengenai keberadaan di dalam Laut Cina Selatan itu sendiri milik siapa. Filipina yang juga salah satu negara anggota ASEAN di backup oleh ASEAN yang salah satu fungsinya adalah menjaga stabilitas regional.[9] Namun meski demikian, diharapkan agar diplomasi, mediasi, dialog, dan konsultasi menjadi pilihan utama dalam upaya penyelesaian konflik yang diambil oleh Cina dan Filipina demi menghindarkan sesuatu yang tidak diinginkan dank arena cara kekerasan tidak akan menuntaskan masalah. Konfrontasi sebagai salah satu cara yang Cina dan Filipina lakukan di dalam kasus tersebut. Bagaimanapun juga sudah “nature”nya negara menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan atau memenuhi kepentingan nasional negaranya.


BACA JUGA:  Mediasi Konflik Aceh & Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

[1] Valerie M. Hudson, Foreign Policy Analysis, Classic and Contemporary Theory, 1958

[2] Daniel S. Papp, Contemporary International Relations: Framework for Understanding, US: Macmilan College, 1994, h. 46

[3] Edy Prasetyono, ‘Perkembangan Internasional dan Kepentingan Nasional Indonesia’, diakses dari http://www.propatria.or.id/download/Paper%20Diskusi/perkembangan_internasional_dan_kennas_indo_ep.pdf pada tanggal 2 Oktober 2012

[5] Artikel ‘Filipina Desak ASEAN Bersatu Menyangkut Laut China Selatan’ (Selasa, 3 April 2012) diakses dari http://id.berita.yahoo.com/filipina-desak-asean-bersatu-menyangkut-laut-china-selatan-163612200.html pada tanggal 2 Oktober 2012

[6] Aleksius Jemadu, Politik Global Dalam Teori dan Politik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2008, hal. 67

[7] Antonius sitepu, Teori Realisme Politik Hans. J. Morgenthau Dalam studi Politik dan HI, hal. 56

[8] Edy Prasetyono, ‘Perkembangan Internasional dan Kepentingan Nasional Indonesia’, diakses dari http://www.propatria.or.id/download/Paper%20Diskusi/perkembangan_internasional_dan_kennas_indo_ep.pdf pada tanggal 2 Oktober 2012

[9] ‘….To promote regional peace and stability through abiding respect for justice and the rule of law in the relationship among countries of the region and adherence to the principles of the United Nations Charter….’ (http://www.aseansec.org/about_ASEAN.html)

 

Artikel ini disumbangkan oleh Muhammad Arby sebagai Penulis Tamu.

SHARE
Artikel SebelumnyaEfek Negatif Media dan Televisi
Artikel SelanjutnyaKorupsi dan Nilai-Nilai Pancasila
Seni Berpikir membahas tentang ilmu hubungan internasional yang berisi hubungan internasional sebagai forum bagi setiap negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Seni Berpikir juga berisi hal-hal lain seputar Wordpress dan Tips Blogging lainnya. Mohon sertakan sumber jika Anda meng-copy-paste tulisan dari dalam situs ini. Regards,

1 KOMENTAR

  1. terimakasih untuk postingan Sodara sangat membantu kami menyusun Skripsi,saya mahasiswa Hubungan internasional Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Papua

TINGGALKAN KOMENTAR